PRISMA Perkuat Standar HSE Data Center, Siapkan Gerakan Nasional

PRISMA Data Center HSE Excellence Program 2026 yang digelar PT PRISMA Mitra Konsultindo pada 8–9 Agustus 2026 di Balehills Resort, Bogor. (Foto : Istimewa)
PRISMA Data Center HSE Excellence Program 2026 yang digelar PT PRISMA Mitra Konsultindo pada 8–9 Agustus 2026 di Balehills Resort, Bogor.

Bogor, katigamagz.com – Pertumbuhan pembangunan pusat data atau data center di Indonesia berjalan cepat seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital. Namun, laju pembangunan itu belum sepenuhnya diikuti kesiapan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki pengalaman dan kompetensi khusus di bidang keselamatan dan kesehatan kerja (HSE) untuk proyek mission critical.

Kesenjangan tersebut menjadi salah satu isu yang dibahas dalam PRISMA Data Center HSE Excellence Program 2026 yang digelar PT PRISMA Mitra Konsultindo pada 8–9 Agustus 2026 di Balehills Resort, Bogor.

Mengusung tema “Updated Safety Issue, Technology & Control Implementation in Data Center Construction”, kegiatan itu mempertemukan sekitar 50 profesional yang terlibat dalam berbagai proyek data center.

Pembahasan tidak hanya berkutat pada aturan keselamatan, tetapi juga menyentuh persoalan kompetensi tenaga kerja, budaya keselamatan, teknologi, serta pengendalian risiko di lapangan.

Kebutuhan terhadap SDM yang memahami karakter proyek data center menjadi perhatian karena proyek tersebut memiliki tingkat keandalan yang tinggi.

Kesalahan dalam proses konstruksi tidak hanya berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja, tetapi juga dapat memengaruhi keandalan sistem yang menopang berbagai layanan digital.

Komisaris PRISMA, Gunawan Puryatama, mengatakan proyek data center membutuhkan pendekatan HSE yang berbeda dibandingkan proyek konstruksi biasa.

“Ini bukan proyek biasa. Ini mission critical. Tidak ada ruang untuk trial and error. HSE harus menjadi bagian dari sistem keandalan, bukan sekadar checklist,” ujarnya.

Persoalan kompetensi SDM juga disoroti Ir. Viza Ramadhani, MSc. Menurut dia, masuknya investor global membawa standar kerja yang semakin tinggi, terutama dalam penerapan budaya keselamatan.

“Perubahan paling terasa ada di culture dan safety. Ini bukan lagi soal regulasi, tapi soal mindset dan disiplin eksekusi. Itu yang masih menjadi tantangan terbesar,” katanya.

Viza menilai pengalaman tenaga kerja dalam proyek data center masih terbatas. Kondisi itu perlu segera diantisipasi agar kebutuhan industri tidak seluruhnya bergantung pada tenaga kerja yang sudah memiliki pengalaman dari luar negeri.

“Manpower dengan exposure data center masih sangat minim. Kalau tidak kita siapkan dari sekarang, kita hanya akan jadi penonton di negeri sendiri,” ujarnya.

Selain Viza, forum tersebut menghadirkan sejumlah praktisi yang cukup dikenal. Mereka antara lain Anggudhi Dwi Rachmawan, ST, Sandy Fauzian, S.Ap, MKKK, Adhi Rahayu, dr. Amory Setia, MKKK, Yudi Ramdhani, SKM, Heru Wibowo, ST, Ir. Dolof Pohan, Masda Hilmi, SKM, dan Novan Amarin, SKM.

Pembahasan dalam forum berkembang pada sejumlah persoalan yang masih dihadapi proyek di lapangan. Mulai dari kesiapan tenaga kerja, kesenjangan kompetensi pada tingkat pelaksanaan, hingga kebutuhan memperkuat penggunaan teknologi dan sistem pengendalian keselamatan.

Kehadiran PT Graha Usaha Teknik (GUT) sebagai main sponsor juga menjadi bagian dari dukungan terhadap pelaksanaan program tersebut. Kolaborasi lintas perusahaan dan praktisi dinilai penting karena peningkatan standar HSE tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak.

PRISMA juga menyiapkan langkah lanjutan setelah program tersebut. Pada akhir 2026, perusahaan berencana membangun platform kolaborasi berskala nasional yang melibatkan pemerintah, industri dan akademisi.

Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian PUPR, serta perguruan tinggi yang memiliki bidang keahlian K3 direncanakan terlibat dalam platform tersebut. Forum nasional itu ditujukan untuk membahas penyelarasan standar, pengembangan kompetensi, dan kebutuhan tenaga kerja yang sesuai dengan perkembangan industri data center.

Gunawan mengatakan penguatan HSE membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, terutama ketika industri mulai berhadapan dengan standar kerja yang semakin kompleks.

“Kami membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya. Ini bukan hanya program PRISMA, ini gerakan bersama. Sponsor, praktisi, regulator, akademisi, semua harus ambil peran,” katanya.

PRISMA Mitra Konsultindo sendiri telah mendukung proyek konstruksi dan data center sejak 2015 melalui pendekatan integrated project support. Pendekatan tersebut mencakup penyediaan tenaga profesional yang diharapkan dapat langsung beradaptasi dengan kebutuhan dan kompleksitas proyek.

Program di Bogor tersebut menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan kebutuhan itu. Tantangan berikutnya adalah memastikan pembahasan tentang standar dan kompetensi tidak berhenti di forum, tetapi diterjemahkan menjadi sistem pelatihan, sertifikasi, pengawasan, dan praktik keselamatan yang lebih kuat di proyek-proyek data center.(*)

Pos terkait