Tahun 2014 menjadi salah satu persimpangan penting dalam perjalanan karier Adi Risfandi. Setelah lebih dari satu dekade bekerja di industri pertambangan Kalimantan, Direktur Mifa Bersaudara ini menerima ajakan yang tak banyak dipilih orang. Bukan pindah ke perusahaan yang lebih besar atau tambang yang sudah mapan, melainkan ke Aceh Barat, daerah yang ketika itu baru mulai membangun industri pertambangan batu bara.
Jakarta, katigamagz.com – Keputusan itu bukan tanpa pertimbangan. Saat itu harga batu bara dunia sedang terpuruk. Di saat sejumlah perusahaan memilih menahan ekspansi, PT Mifa Bersaudara justru tengah membangun fondasi operasinya. Infrastruktur belum sepenuhnya tersedia, budaya industri belum terbentuk, sementara masyarakat sekitar baru mulai mengenal aktivitas pertambangan modern.
“Banyak yang bilang, ngapain pindah? Di tempat lama semuanya sudah jadi,” kenangnya sambil tersenyum. “Tapi buat saya, justru di situ tantangannya.”
Lulusan Teknik Pertambangan Institut Teknologi Bandung (ITB) itu memulai kariernya di industri peledakan tambang sebelum bergabung dengan PT Kaltim Prima Coal (KPC), salah satu perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia. Di sana, sistem operasional sudah berjalan matang. Standar kerja, prosedur, hingga budaya keselamatan telah terbentuk dengan baik.
Berbeda dengan kondisi yang ditemuinya di Aceh. “Kalau di KPC, semuanya sudah tersedia. Datang bekerja, sistemnya sudah ada. Sementara di Aceh, kami memulai hampir dari nol,” ujarnya.
Bersama sejumlah profesional yang datang dari berbagai perusahaan tambang, mulai dari PT Vale Indonesia, Berau Coal, SIS hingga KPC, Adi ikut membangun fondasi operasional Mifa Bersaudara. Masing-masing membawa pengalaman dan budaya kerja yang berbeda. Tantangannya adalah menyatukan seluruh pengalaman itu menjadi satu sistem yang sesuai dengan karakter Mifa.
Tidak ada cetak biru yang bisa langsung diterapkan. Setiap prosedur harus disusun, diuji, lalu disesuaikan dengan kondisi lapangan. Bahkan kebiasaan sederhana seperti menggunakan helm saat mengendarai sepeda motor di area tambang membutuhkan proses panjang untuk menjadi budaya.
“Kalau sekarang semua orang otomatis memakai helm, itu bukan sesuatu yang datang begitu saja. Itu dibangun pelan-pelan. Dulu tidak mudah,” katanya.
Bagi Adi, membangun operasi tambang bukan hanya soal menghadirkan alat berat atau mengejar target produksi. Yang jauh lebih penting adalah membangun cara berpikir yang sama di antara seluruh pekerja. Karena tanpa budaya kerja yang kuat, teknologi secanggih apa pun tidak akan mampu menjamin keberhasilan sebuah operasi.
Cara pandang itu kemudian menjadi pegangan selama ia memimpin operasional perusahaan. Di tengah target produksi yang terus meningkat, ada satu prinsip yang menurutnya tidak pernah berubah, yakni keselamatan harus menjadi fondasi dari setiap keputusan.
“Kalau fondasi keselamatannya sudah kuat, produksi akan mengikuti. Tapi kalau keselamatan diabaikan, sebaik apa pun targetnya, itu bukan keberhasilan,” ujarnya.
Pengalaman membangun Mifa sejak awal membuat Adi memahami bahwa keselamatan tidak bisa dipisahkan dari operasional. Di dunia pertambangan, keduanya berjalan beriringan. Target produksi memang penting, tetapi tidak boleh dicapai dengan mengorbankan keselamatan pekerja.
“Produksi yang baik itu dihasilkan dari safety yang baik,” ujarnya mantap. “Kalau terjadi insiden, fokus kita bukan mengejar produksi yang hilang, tetapi memastikan penyebabnya diperbaiki agar tidak terulang.”
Cara berpikir itu lahir dari pengalaman panjangnya di lapangan. Ia pernah menyaksikan sendiri bagaimana sebuah kecelakaan kerja mampu menghentikan operasi dan memengaruhi banyak aspek, mulai dari produktivitas hingga kepercayaan terhadap perusahaan.
Karena itu, setiap insiden di Mifa selalu diperlakukan sebagai bahan pembelajaran. Perusahaan tidak berhenti pada proses investigasi, tetapi mencari akar masalah dan memperbaiki sistem agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Salah satu contoh yang ia ceritakan adalah ketika perusahaan mengevaluasi kecelakaan yang dipicu kelelahan operator. Dari peristiwa itu, Mifa kemudian mewajibkan penggunaan fatigue monitoring camera di seluruh armada dan memperkuat sistem pemantauan di ruang kontrol. Menurut Adi, teknologi hanya akan bermanfaat apabila diikuti perubahan cara bekerja.
“Jangan alergi terhadap teknologi. Yang penting kita tahu risikonya, lalu kita kelola. Teknologi harus membantu orang bekerja lebih aman,” katanya.
Prinsip itu terlihat dari berbagai inovasi yang diterapkan perusahaan. Kamera pendeteksi kelelahan pengemudi, sistem pemantauan suhu peralatan berbasis robot di area crusher, hingga teknologi yang mampu memprediksi perubahan gelombang laut untuk mendukung aktivitas pelabuhan menjadi bagian dari transformasi operasional yang terus dilakukan.
Bagi Adi, investasi teknologi bukan cuma mengikuti perkembangan industri, melainkan cara untuk mengurangi paparan risiko terhadap pekerja. Di balik gaya bicaranya yang lugas, Adi mengaku memegang satu prinsip sederhana yang selalu ia bawa sepanjang kariernya, yaitu pantang menyerah.
Prinsip itu kembali ia ingat ketika harga batu bara dunia anjlok pada awal perjalanan Mifa. Saat itu, kondisi perusahaan tidak mudah. Dalam sebuah rapat, Direktur Utama hanya menampilkan gambar sebuah kapal yang sedang diterpa badai besar. Tidak ada presentasi panjang, tidak ada pidato yang berapi-api. Hanya satu pertanyaan yang diajukan kepada seluruh tim.
“Can we go there?”
Pertanyaan singkat itu, kata Adi, justru menjadi penyemangat bagi seluruh tim untuk bertahan melewati masa-masa sulit. Bertahun-tahun kemudian, kenangan itu masih ia simpan sebagai pengingat bahwa tantangan sebesar apa pun selalu bisa dihadapi selama tim tetap percaya pada tujuan yang sama.
Di luar pekerjaannya sebagai Direktur Operasional, Adi dikenal gemar berlari dan mendaki gunung. Ia juga rutin mengikuti kegiatan charity run yang hasil penggalangan dananya digunakan untuk membantu masyarakat membangun akses air bersih di berbagai daerah.
Baginya, olahraga bukan hanya menjaga kebugaran, tetapi juga melatih ketahanan mental, nilai yang sama pentingnya ketika memimpin sebuah operasi tambang.
Lebih dari sepuluh tahun sejak pertama kali menginjakkan kaki di Aceh, Adi masih melihat Mifa sebagai tempat belajar. Bukan hanya belajar mengelola tambang, tetapi juga belajar membangun manusia, menyatukan berbagai pengalaman menjadi satu budaya kerja, dan menanamkan keyakinan bahwa keselamatan bukan sekadar kewajiban, melainkan nilai yang harus dijaga bersama.
“Target bisa berubah, teknologi akan terus berkembang. Tapi ada satu hal yang tidak boleh berubah, keselamatan harus selalu menjadi dasar dalam setiap pekerjaan,” ujarnya.
Bagi Adi Risfandi, itulah ukuran sesungguhnya dari sebuah operasi pertambangan yang berhasil.

