Banyak orang datang ke industri pertambangan untuk mengejar produksi. Ricky Nelson, Direktur Utama PT Mifa Bersaudara justru melihatnya dari sudut yang berbeda. Baginya, tambang bukan semata tentang batu bara, alat berat, atau angka produksi. Di balik semua itu, ada manusia yang harus dipersiapkan, dijaga keselamatannya, dan diberi kesempatan untuk berkembang.

Direktur Utama PT Mifa Bersaudara
Meulaboh, katigamagz.com – Cara pandang itulah yang membawanya menerima tawaran bergabung dengan PT Mifa Bersaudara pada 2011. Saat itu, ia sebenarnya telah memiliki karier yang mapan di industri pertambangan. Lebih dari 20 tahun ia menghabiskan waktunya di PT Inco–yang kini bernama PT Vale Indonesia–dengan berbagai penugasan, mulai dari perencanaan tambang, operasi, pengembangan bisnis hingga manajemen strategis.
Pengalaman bekerja di Kanada juga memberinya kesempatan memahami praktik pertambangan modern di tingkat internasional. Karier yang dibangunnya sudah berada di jalur yang menjanjikan. Namun, ia justru memilih berangkat ke Aceh Barat.
Bagi sebagian orang, keputusan itu mungkin terdengar tidak biasa. Ketika itu, Aceh masih berada dalam fase membangun kembali berbagai sektor kehidupan setelah dihantam konflik berkepanjangan dan bencana tsunami. Industri pertambangan modern belum berkembang seperti sekarang. Infrastruktur masih terus dibenahi, sementara budaya kerja industri juga belum tumbuh sepenuhnya.
Di situlah Ricky melihat tantangan yang sesungguhnya. “Yang kami bangun bukan hanya tambang. Kami ingin meninggalkan legacy,” ujarnya saat berbincang dengan Majalah KATIGA.
Kalimat itu berulang kali muncul sepanjang wawancara. Ia tidak banyak berbicara mengenai target produksi atau besarnya cadangan batu bara. Sebaliknya, Ricky lebih sering membahas bagaimana sebuah perusahaan seharusnya hadir sebagai bagian dari pembangunan daerah.
Menurutnya, membangun tambang jauh lebih mudah dibanding membangun budaya kerja. Alat berat bisa didatangkan dalam hitungan bulan, fasilitas bisa dibangun dalam beberapa tahun, tetapi mengubah cara berpikir manusia membutuhkan proses yang jauh lebih panjang.
Ketika PT Mifa Bersaudara mulai mengembangkan operasinya di Aceh Barat, tantangan terbesar bukan terletak pada aspek teknis pertambangan. Tantangan yang paling berat justru membangun budaya industri di tengah masyarakat yang sebelumnya tidak tumbuh dalam lingkungan kerja pertambangan.
“Kami harus memperkenalkan disiplin, cara bekerja yang aman, cara bekerja yang terencana. Semua itu tidak bisa terjadi dalam waktu singkat,” katanya.
Pengalaman panjang sebagai insinyur tambang membuat Ricky memahami bahwa keberhasilan sebuah perusahaan tidak ditentukan oleh teknologi semata. Faktor manusialah yang menjadi pembeda.
Karena itu, sejak awal ia mendorong agar pengembangan sumber daya manusia berjalan beriringan dengan pembangunan operasional perusahaan. Kesempatan belajar, pelatihan, hingga transfer pengetahuan menjadi bagian yang terus didorong di lingkungan Mifa. Ia percaya perusahaan yang sehat adalah perusahaan yang mampu melahirkan generasi penerus yang lebih baik daripada para pendahulunya.
Prinsip tersebut juga tercermin dari gaya kepemimpinannya. Ricky mengaku tidak pernah berhenti belajar. Baginya, ilmu pengetahuan selalu berkembang dan seorang pemimpin tidak boleh merasa paling tahu.
“Saya selalu ingin belajar. Setelah belajar, saya ingin mengajarkan kepada orang lain. Pengetahuan itu harus dibagikan supaya organisasi terus berkembang,” ujarnya.
Pandangan itu pula yang membuatnya aktif mendorong lahirnya pemimpin-pemimpin baru di lingkungan perusahaan. Ia ingin setiap orang memiliki kesempatan berkembang melalui pengalaman, pendampingan, dan kepercayaan.
Di tengah pembicaraan mengenai strategi bisnis, satu topik yang paling sering kembali ia singgung adalah keselamatan. Bagi Ricky, keselamatan bukan hanya bagian dari kepatuhan terhadap regulasi atau syarat untuk memperoleh penghargaan. Ia melihatnya sebagai nilai dasar yang harus melekat dalam setiap keputusan perusahaan.
“Kalau orang mengatakan keselamatan hanya untuk memenuhi regulasi, saya tidak sepakat. Ini tanggung jawab kemanusiaan,” tegasnya.
Cara berpikir itu kemudian menjadi fondasi budaya kerja di PT Mifa Bersaudara. Keselamatan ditempatkan sebagai bagian dari proses bisnis, bukan pelengkap operasional. Seluruh pekerja didorong untuk berani mengingatkan, melaporkan potensi bahaya, bahkan menghentikan pekerjaan apabila kondisi dinilai tidak aman.
Menurut Ricky, produktivitas tidak akan berarti apabila harus dibayar dengan keselamatan manusia.
Di luar kesibukannya memimpin perusahaan, Ricky tetap meluangkan waktu untuk aktivitas yang membuatnya terus belajar. Ia gemar berlari, mendaki gunung, dan menjelajahi berbagai daerah di Indonesia. Baginya, setiap perjalanan selalu menghadirkan pelajaran baru tentang manusia, alam, dan cara memandang kehidupan.
Lebih dari 30 tahun berkecimpung di dunia pertambangan telah membentuk keyakinannya bahwa perusahaan tidak hanya dinilai dari apa yang berhasil diproduksi, tetapi juga dari warisan yang ditinggalkannya.
Bagi Ricky Nelson, warisan itu bukan hanya tambang yang terus beroperasi, melainkan manusia yang tumbuh bersama perusahaan, budaya kerja yang semakin kuat, serta keyakinan bahwa setiap orang yang datang bekerja berhak pulang ke rumah dengan selamat.




