Di Tanah Teuku Umar, Mifa Bertumbuh dengan Budaya Keselamatan

PT MIFA BERSAUDARA
PT MIFA BERSAUDARA

Perjalanan menuju PT Mifa Bersaudara menjadi lebih dari sekadar kunjungan ke kawasan pertambangan. Dari Banda Aceh, tim Majalah KATIGA menempuh perjalanan darat sekitar lima jam menuju Meulaboh, ibu kota Kabupaten Aceh Barat. Sepanjang jalur pesisir barat Sumatra, hamparan Samudra Hindia dan perbukitan hijau menjadi pemandangan yang mengiringi perjalanan menuju salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di Aceh.

Meulaboh, katigamagz.com – Meulaboh bukan kota biasa. Daerah ini dikenal sebagai tanah kelahiran Pahlawan Nasional Teuku Umar sekaligus menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak gempa dan tsunami Aceh pada 2004. Dua dekade kemudian, wajah Aceh Barat terus berubah. Infrastruktur tumbuh, aktivitas ekonomi kembali bergerak, dan sektor industri mulai menjadi bagian dari proses kebangkitan daerah.

Di tengah perubahan itu, PT Mifa Bersaudara hadir sebagai salah satu penggerak industri pertambangan di Aceh Barat. Namun, perjalanan KATIGA ke Mifa tidak hanya menemukan aktivitas tambang yang terus berkembang. Di balik operasional perusahaan, ada cerita tentang kepemimpinan, budaya keselamatan, serta perjalanan panjang membangun sumber daya manusia yang menjadi fondasi pertumbuhan perusahaan.

Perkuat Budaya Keselamatan

Di industri pertambangan, target produksi sering menjadi tolok ukur keberhasilan. Namun di PT Mifa Bersaudara, ada ukuran lain yang tak kalah penting, yakni setiap pekerja harus pulang ke rumah dengan selamat.

Kesadaran itulah yang terasa ketika memasuki kawasan operasional PT Mifa Bersaudara di Aceh Barat. Sebelum alat berat mulai bergerak, sebelum batu bara diangkut menuju pelabuhan, ada rangkaian aktivitas yang lebih dulu dilakukan.

Operator memeriksa kondisi unit, pengawas memastikan area kerja aman, sementara setiap pekerja menjalani prosedur yang sama setiap kali memulai pekerjaan. Rutinitas itu mungkin terlihat sederhana, tetapi justru dari sanalah budaya keselamatan pertambangan dibangun.

Bagi perusahaan tambang, kecelakaan kerja bukan sekadar persoalan statistik. Satu kelalaian kecil dapat berujung pada hilangnya nyawa, terganggunya operasional, hingga rusaknya kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun. Karena itu, di Mifa Bersaudara, keselamatan ditempatkan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses bisnis.

“Kalau orang mengatakan keselamatan hanya untuk memenuhi regulasi, saya tidak sepakat. Ini tanggung jawab kemanusiaan,” ujar Direktur Utama PT Mifa Bersaudara, Ricky Nelson.

Ricky Nelson Direktur Utama PT Mifa Bersaudara
Ricky Nelson
Direktur Utama PT Mifa Bersaudara

Pandangan itu bukan sekadar pernyataan normatif. Ketika Mifa mulai mengembangkan tambang batu bara di Aceh Barat lebih dari satu dekade lalu, tantangan yang dihadapi bukan hanya membangun fasilitas penambangan atau mendatangkan alat berat. Perusahaan juga harus membangun budaya kerja di tengah masyarakat yang sebelumnya tidak akrab dengan industri pertambangan modern.

PT Mifa Bersaudara berdiri pada 2002 dan mengelola kegiatan pertambangan batu bara terintegrasi di Kabupaten Aceh Barat. Operasinya mencakup seluruh rantai kegiatan, mulai dari penambangan, pengolahan batu bara, jalan angkut khusus (hauling), hingga terminal pelabuhan sendiri untuk pengiriman batu bara.

Dengan wilayah izin usaha pertambangan seluas 3.134 hektare, aktivitas perusahaan melibatkan ribuan pekerja, ratusan unit alat, serta operasi yang berlangsung selama 24 jam.

Kompleksitas itulah yang membuat keselamatan tidak mungkin hanya dibebankan kepada satu divisi. Di Mifa, keselamatan dibangun melalui sistem yang melibatkan seluruh fungsi perusahaan.

Iqbal AlamudinDivision Head Occupational Health, Safety and Security (OHSS)
Iqbal Alamudin
Division Head Occupational Health, Safety and Security (OHSS)

Division Head Occupational Health, Safety and Security (OHSS), Iqbal Alamudin, menjelaskan bahwa perusahaan mengembangkan sistem yang menggabungkan keselamatan pertambangan, keselamatan operasi, keselamatan dan kesehatan kerja, industrial hygiene, tanggap darurat, hingga pengamanan wilayah operasional. Seluruhnya berjalan dalam kerangka Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP).

Namun bagi Iqbal, sistem hanyalah alat. Yang menentukan keberhasilannya tetap manusia yang menjalankannya. Karena itu, perhatian perusahaan tidak berhenti pada penyusunan prosedur. Setiap aktivitas diawali dengan identifikasi potensi bahaya.

Inspeksi lapangan dilakukan secara rutin. Patroli keselamatan menjadi pekerjaan harian. Seluruh sarana, prasarana, instalasi dan peralatan pertambangan dievaluasi secara berkala untuk memastikan tetap berada dalam kondisi aman digunakan.

Bahkan kesehatan pekerja ikut dipantau melalui pemeriksaan berkala dan program wellness yang memonitor berbagai indikator kesehatan, mulai dari kadar gula darah, kolesterol, asam urat, berat badan hingga lingkar perut. Langkah itu dilakukan untuk memastikan pekerja berada dalam kondisi prima sebelum menjalankan tugasnya.

Budaya yang sama juga diterapkan kepada seluruh perusahaan mitra. Mifa menerapkan Contractor Safety Management System (CSMS) untuk memastikan setiap kontraktor memenuhi standar keselamatan yang sama dengan perusahaan. Penilaiannya tidak hanya melihat capaian produksi, tetapi juga kinerja keselamatan, kompetensi personel, pengelolaan lingkungan, serta kepatuhan terhadap prosedur kerja.

Dengan cara itu, budaya keselamatan tidak berhenti pada karyawan Mifa, tetapi menjadi standar yang mengikat seluruh pihak yang bekerja di wilayah tambang.

Keselamatan dan Target Produksi

Membangun budaya keselamatan tentu tidak cukup dengan menyusun prosedur atau menyediakan perlengkapan kerja. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan seluruh sistem itu dijalankan secara konsisten setiap hari, di tengah aktivitas pertambangan yang berlangsung selama 24 jam dan melibatkan ribuan pekerja.

Abdul HarisWakil Kepala Teknik Tambang (KTT)
Abdul Haris
Wakil Kepala Teknik Tambang (KTT)

Peran itulah yang diemban Abdul Haris sebagai Wakil Kepala Teknik Tambang (KTT) PT Mifa Bersaudara. Baginya, keselamatan tidak bisa dipisahkan dari target produksi. Keduanya justru harus berjalan beriringan.

“Kalau target produksi tercapai, tetapi aspek keselamatan diabaikan, itu bukan keberhasilan,” ujarnya.

Menurut Abdul Haris, seluruh aktivitas penambangan selalu diawali dengan perencanaan. Mulai dari kondisi geoteknik, desain penambangan, kesiapan alat, hingga potensi risiko di lapangan dipetakan sebelum pekerjaan dimulai. Dari proses itu perusahaan menentukan langkah pengendalian yang harus diterapkan oleh seluruh pekerja maupun mitra kerja.

Komitmen tersebut juga menjadi dasar dalam memilih perusahaan kontraktor. Mifa tidak hanya mempertimbangkan kemampuan produksi atau ketersediaan alat berat, tetapi juga rekam jejak keselamatan, kompetensi personel, penerapan teknologi, hingga pengelolaan lingkungan. Seluruh mitra kerja dievaluasi secara berkala melalui sistem penilaian internal yang menjadi dasar untuk menentukan kelanjutan kerja sama.

Adi RisfandiDirektur PT Mifa Bersaudara
Adi Risfandi
Direktur PT Mifa Bersaudara

Di tingkat operasional, komitmen itu diterjemahkan dalam berbagai langkah nyata. Direktur PT Mifa Bersaudara, Adi Risfandi, mengatakan keselamatan merupakan fondasi bagi seluruh aktivitas perusahaan. Karena itu, investasi di bidang keselamatan dipandang sebagai kebutuhan, bukan beban biaya.

“Visi dan target perusahaan hanya bisa dicapai kalau operasional berjalan aman. Itu sebabnya penerapan keselamatan harus menjadi cara berpikir yang sama, mulai dari pimpinan sampai pekerja di lapangan,” katanya.

Menurut Adi, perkembangan teknologi juga dimanfaatkan untuk memperkuat pengendalian risiko. Kamera pemantau kelelahan (fatigue monitoring), pemantauan cuaca untuk aktivitas pelabuhan, hingga sistem pemantauan peralatan menjadi bagian dari upaya perusahaan mengurangi potensi kecelakaan sebelum terjadi.

Terkait dengan teknologi pemantau kelelahan ini Iqbal Alamudin menjelaskan bahwa operator HD (Heavy Duty) atau OHT (Off-High Truck)­—yang selama ini menjadi tumpuan produksi dengan ancaman bahaya terbesar—sudah dilengkapi peralatan berbasis AI yang dinamakan Monitor Digital Video Recorder (MDVR).

“Alat ini berfungsi memonitor pergerakan tubuh operator terutama di area wajah, seperti mata, mulut dan gerakan kepala. Bukan hanya memonitor tetapi juga memberi peringatan atau alarm saat itu juga ketika ada tanda-tanda kelelahan atau fatigue,” terang Iqbal.

Bagi Mifa, teknologi bukan sekadar mengikuti perkembangan industri, melainkan alat untuk meningkatkan perlindungan terhadap pekerja.

 Pemeriksaan dan Perawatan Harian

 Budaya itu paling mudah terlihat justru dari kebiasaan para operator. Imam, operator off highway dump truck, mengaku tidak pernah langsung menjalankan unit ketika memulai giliran kerja. Pemeriksaan dan Perawatan Harian (P2H) selalu menjadi langkah pertama.

Seluruh komponen diperiksa untuk memastikan kendaraan berada dalam kondisi layak operasi. Bila ditemukan kerusakan, sekecil apa pun, unit tidak boleh dipaksakan bekerja sebelum dinyatakan aman oleh mekanik.

“Bukan kami yang memutuskan alat boleh jalan atau tidak. Kalau ada masalah, kami laporkan dulu. Setelah dinyatakan aman, baru kami bekerja,” katanya.

Kebiasaan serupa dilakukan Ardi Dianda yang bertugas mengoperasikan sistem conveyor batu bara. Sebelum menekan tombol operasi, ia memastikan seluruh area telah steril, berkomunikasi dengan operator lain melalui radio, dan memastikan tidak ada pekerjaan perawatan yang masih berlangsung. Setelah seluruh konfirmasi diterima, barulah conveyor dijalankan.

Rutinitas itu dilakukan setiap hari, berulang-ulang, tanpa pernah dianggap sebagai formalitas. “Kami pastikan semua aman dulu, baru mesin dijalankan,” ujarnya.

Bagi Mifa Bersaudara, keselamatan memang tidak dibangun melalui satu program atau satu kampanye. Melainkan tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten oleh setiap orang, mulai dari ruang rapat direksi hingga kabin alat berat.

Budaya itulah yang terus dipelihara perusahaan sejak memulai operasi di Aceh Barat lebih dari satu dekade lalu. Sebab pada akhirnya, keberhasilan sebuah perusahaan tambang bukan hanya tercermin dari jumlah batu bara yang berhasil diproduksi, tetapi juga dari kemampuannya memastikan seluruh pekerja dapat mengakhiri hari dengan satu hal yang paling penting, yakni pulang ke rumah dengan selamat.

Dengan semua upaya yang dilakukan, maka tak heran Mifa Bersaudara berhasil mengantongi berbagai sertifikasi dan penghargaanya. Diantaranya; Penghargaan Kecelakaan Nihil di tahun 2017 dan 2028, ISO 14001-2015 terkait Operasional Pertambangan Batubara dan Aktifitas Pendukungan, UTAMA Penghargaan Pengelolaan Keselamatan Pertambangan 2017 dari Kementerian ESDM, PRATAMA Penghargaan Pengelolaan Lingkungan Pertambangan 2017 dari Kementerian ESDM, Aceh Investment Awards Tahun 2015, dan masih banyak lagi.

Pos terkait