Bagi Richard Kawilarang, keselamatan dan Kesehatan kerja (K3) tidak lahir dari ruang kuliah. Ia ditempa oleh debu tambang, deru mesin alat berat, dan ribuan jam mengamati bagaimana satu keputusan kecil dapat menentukan apakah seorang pekerja pulang ke rumah dengan selamat atau tidak.

Safety Regional Manager PT Pamapersada Nusantara (PAMA)
Jakarta, katigamagz.com – Kariernya di PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dimulai pada 1992 sebagai operator alat berat. Saat itu usianya belum genap 20 tahun. Hari-harinya dihabiskan di balik kemudi alat berat, bergelut dengan ritme tambang yang nyaris tak pernah berhenti. Dua tahun kemudian, ia dipercaya menjadi pengawas tambang. Sejak saat itu, tanggung jawabnya berubah. Ia tidak lagi sekadar mengoperasikan alat, tetapi juga menjaga keselamatan orang-orang yang bekerja bersamanya.
“Saya memulai semuanya dari bawah,” ujarnya kepada Majalah KATIGA.
Kalimat itu bukan sekadar ungkapan kerendahan hati. Richard memang tidak pernah menempuh pendidikan formal di bidang keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Hampir seluruh pengetahuannya dibangun melalui pengalaman di lapangan, pelatihan perusahaan, serta proses belajar yang berlangsung selama lebih dari tiga dekade.
Kesempatan itu datang ketika PAMA mulai menerapkan sistem manajemen mutu pada akhir 1990-an. Richard ikut terlibat dalam implementasi standar ISO, kemudian mendalami sistem manajemen lingkungan dan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang saat itu mulai berkembang di industri pertambangan. Dari pengalaman tersebut, cara pandangnya berubah. Ia menyadari bahwa K3 bukan hanya soal mengenakan alat pelindung diri, melainkan bagaimana pekerjaan dirancang sejak awal agar setiap risiko dapat dikendalikan.
Pemahaman itu semakin kuat ketika perusahaan mengevaluasi sistem manajemen K3 yang digunakan. Standar internasional memang penting, tetapi menurut Richard tidak selalu tepat dan mampu menjawab kebutuhan operasi tambang yang sangat dinamis.
“Sistem itu seperti membeli baju jadi. Bahan dan modelnya bagus, tetapi belum tentu pas dipakai,” katanya.
Bersama tim, Richard kemudian terlibat dalam penyusunan PAMA Safety Management System (PSMS), sebuah sistem internal perusahaan yang dirancang sesuai karakteristik dan kebutuhan operasi perusahaan. Pengalaman tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan kariernya.
Buat Lebih Tepat dan Dorong Lebih Prediktif
Menariknya, Richard tidak selamanya berada di jalur K3 keselamatan. Ia pernah kembali memimpin operasional tambang sebagai Production Department Head. Justru dari posisi itulah ia memahami tekanan produksi, target operasional, hingga realitas yang dihadapi operator setiap hari. Pengalaman tersebut memperkuat keyakinannya bahwa K3 dan produktivitas bukan dua kepentingan yang saling bertentangan.
“Kalau safety dianggap menghambat pekerjaan, berarti ada yang salah dengan cara kita mengelolanya,” katanya.
Bagi Richard, aturan K3 seharusnya membuat orang bekerja dengan tepat dan benar, bukan menambah beban administrasi. Setiap prosedur harus lahir dari kebutuhan nyata di lapangan, bukan sekadar memenuhi persyaratan dokumen.
Cara berpikir itu membuatnya selalu melihat persoalan dari sudut pandang operator. Ia memahami bagaimana rasanya duduk berjam-jam di balik kemudi alat berat dan mengetahui bahwa satu keputusan pengawas dapat menentukan K3 puluhan bahkan ratusan pekerja.
Menurut Richard, risiko utama di industri pertambangan sebenarnya tidak banyak berubah. Alat berat tetap beroperasi, material tambang tetap dipindahkan, dan proses produksi berjalan seperti puluhan tahun lalu. Sekarang yang berubah justru manusianya.
Ia mencontohkan perubahan gaya hidup pekerja. Dulu, selepas bekerja mereka umumnya langsung beristirahat. Kini hampir setiap orang membawa gawai dengan akses internet tanpa batas. Tanpa disadari, waktu tidur berkurang dan kualitas istirahat menurun karena penggunaan gawai di waktu yang seharusnya menjadi waktu tidurnya.
Padahal, bagi operator alat berat, kurang tidur sama berbahayanya dengan mengabaikan prosedur K3.
“Operator Mengoperaskan alat berat itu bukan pekerjaan yang hanya mengandalkan tenaga. Yang paling dibutuhkan justru konsentrasi untuk fokus,” tegasnya.
Karena itu, Richard mendorong pendekatan keselamatan yang lebih prediktif. Organisasi tidak boleh hanya bergerak setelah kecelakaan terjadi, tetapi harus mampu mengenali tanda-tanda risiko sebelum berubah menjadi insiden.
Prinsip tersebut diterapkan melalui berbagai inovasi, salah satunya penggunaan jam pintar (smartwatch) untuk memantau pola istirahat pekerja. Teknologi ini membantu memastikan operator memiliki waktu tidur yang cukup sebelum bekerja mengoperasikan alat berat.
Namun bagi Richard, teknologi hanyalah alat. Budaya K3 tetap dibangun melalui kepedulian terhadap manusia.
Setiap awal giliran kerja, para pekerja diajak melakukan pemeriksaan awal sederhana terhadap diri sendiri: apakah tidurnya cukup?, apakah sedang menghadapi persoalan yang mengganggu konsentrasi?, apakah kondisi kesehatannya memungkinkan untuk bekerja? Atau apakah sedang dalam pengaruh konsumsi obat dari dokter yang menyebabkan kantuk?
Apabila terdapat persoalan yang berpotensi memengaruhi keselamatan, perusahaan memberi ruang bagi pekerja untuk menyelesaikannya terlebih dahulu.”Tidak ada target produksi yang sebanding dengan risiko kehilangan nyawa,” ujarnya.
Setiap Pekerja Berani Berbicara
Pendekatan tersebut diperkuat melalui program Speak Up, yang mendorong setiap pekerja berani berbicara untuk menyampaikan persoalan yang dihadapinya kepada pengawas, baik terkait pekerjaan maupun kondisi pribadi.
Untuk memastikan bahwa keseimbangan antara bekerja dan kehidupan normal (work life balance) terpenuhi dengan baik, maka berbagai fasilitas disiapkan oleh perusahaan untuk digunakan oleh pekerja, seperti sarana olahraga, sarana hobi seperti studio musik hingga radio FM internal juga disediakan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan fisik dan mental pekerja.
“Bekerja di tambang itu bukan hanya soal alat berat. Kita juga mengelola manusianya,” ungkapnya.
Pandangan yang sama ia terapkan ketika berbicara mengenai “Generasi Z”. Di tengah banyaknya stigma terhadap generasi muda, Richard memilih pendekatan berbeda, “Kita yang harus beradaptasi. Jangan buru-buru memberi cap,” tegasnya
Baginya, K3 bukan semata tanggung jawab departemen safety (K3). Pemilik utama K3 adalah para pengawas operasional karena merekalah yang merencanakan pekerjaan, menyiapkan area kerja, dan melakukan pekerjaan, maka para pengawas operasional yang harus memastikan setiap prosedur dijalankan dengan baik dan benar. Departemen K3 juga menjalankan perannya untuk menjaga sistem K3 melalui program pembinaan dengan memberikan induksi, pelatihan dan kampanye. Melakukan inspeksi, pengukuran dan pengujian. Mengevaluasi efektifitas program dan menganalisa data-data K3. Dan melakukan pengawasan atas kepatuhan implementasi sistem K3 melalui audit dan observasi pengamatan lapangan agar standar diterapkan secara konsisten.
Di luar pekerjaan, Richard dikenal dengan kesederhanaannya. Lahir di Brebes dari ayah berdarah Minahasa dan ibu asal Mojokerto, ia tumbuh dalam lingkungan multikultural yang membentuk kemampuannya beradaptasi. Di sela kesibukan, ia menikmati hobinya bermain gitar bass sebagai cara melepas penat.
Ada satu pesan sang ayah yang terus menjadi pegangan hidupnya.
“Kalau diberi amanah kecil, kerjakan dengan benar, karena kalau setia pada hal-hal kecil, suatu saat kamu akan dipercaya mengerjakan hal yang lebih besar.”
Selama lebih dari tiga dekade berkarier di PAMA, nasihat sederhana itu terus menjadi kompasnya. Sebab bagi Richard, keberhasilan seorang praktisi K3 tidak diukur dari banyaknya prosedur yang dibuat atau audit yang diselesaikan, melainkan dari seberapa banyak pekerja yang bekerja dengan aman, hidup sehat dan pulang ke rumah dengan selamat.
