Jakarta, katigamagz.com – Setiap 28 September PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI) memperingati Hari Ulang Tahun. Di 2026 ini KAI genap berusia 81 tahun. Berbagai program layanan dan diskon tiket pun digelar sejalan dengan tema besarnya: “Semakin Melayani”. Tema tersebut menjadi semangat KAI untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan sesuai dengan kebutuhan masyarakat seperti pengembangan layanan, teknologi, dan konektivitas perkeretaapian. KAI juga menempatkan keselamatan dan profesionalisme sebagai bagian penting dalam peningkatan layanan.
Di sisi keselamatan, hingga 31 Juli 2026, KAI mencatat ada 151 kecelakaan di perlintasan sebidang, turun dari 170 kejadian pada periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan kemajuan, tetapi 131 korban masih menjadi pengingat bahwa risiko di sekitar jalur kereta belum terkendali sepenuhnya.
Data tersebut berbeda cakupannya dari catatan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) tentang empat kecelakaan kereta api yang diinvestigasi pada 2025. Keduanya perlu dibaca sesuai jenis kejadian dan periode pencatatannya.
Dalam perjalanan menuju usia ke-81, KAI telah mengubah banyak aspek layanan. Seperti pemesanan tiket berkembang dari loket menjadi layanan digital melalui Access by KAI. Proses naik kereta juga semakin praktis dengan ‘face recognition boarding’. Transformasi ini memudahkan pelanggan kereta jarak jauh dan lokal.

Menurut Beni Cahyadi seorang QHSE, Sustainability & Waste Management Specialist kemajuan layanan perlu selalu berjalan seiring dengan keandalan operasi dan pengendalian risiko keselamatan. “Saya berharap KAI terus memperkuat pemeriksaan dan perawatan sarana serta prasarana berdasarkan kondisi dan tingkat risikonya. Temuan inspeksi, gangguan kecil, dan kejadian nyaris celaka perlu ditindaklanjuti sebelum berkembang menjadi kecelakaan,” kata Beni.
Sementara itu KNKT masih menyoroti tunggakan perawatan prasarana dan pengawasan pemeliharaan sebagai isu keselamatan. Karena itu, keberhasilan transformasi juga perlu diukur dari turunnya risiko, bukan hanya dari cepatnya layanan.
Keselamatan di perlintasan sebidang membutuhkan kerja bersama. KAI telah menangani 172 perlintasan prioritas, namun penataan lokasi berisiko harus berlanjut bersama pemerintah daerah, aparat, dan masyarakat.
“Di dalam organisasi, saya berharap kompetensi petugas, ketegasan inspeksi K3, kualitas investigasi, dan penerapan ‘Behaviour Based Safety’ terus diperkuat. Saya pernah berkolaborasi dalam pelatihan bidang tersebut bersama teman-teman KAI, sehingga saya memahami pentingnya ruang belajar yang terbuka dan tindak lanjut yang nyata,” ujar Beni.
Sebagai pengguna kereta api jarak jauh maupun komuter, Beni berharap sederhana: setiap orang dapat berangkat dengan tenang dan tiba dengan selamat. Dan di usia ke 81 tahun ini KAI terus meningkatkan pelayanan sambil menjaga keselamatan penumpang, pekerja, pengguna jalan, dan masyarakat di sekitar jalur rel.





