Universitas Diponegoro: Strategi Pendidikan K3 Lulusan Cepat Diserap

Di tengah laju industrialisasi dan tuntutan standar keselamatan kerja yang kian ketat, kebutuhan tenaga ahli keselamatan dan kesehatan kerja (K3) terus meningkat. Namun, persoalan klasik tetap muncul, yakni lulusan perguruan tinggi kerap dinilai belum siap pakai.

Semarang, katigamagz.com – Di Universitas Diponegoro (Undip), persoalan itu dijawab lewat pendekatan yang tidak biasa. Program pendidikan K3 di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) tidak hanya dibangun di ruang kelas, tetapi juga melalui jejaring alumni, sertifikasi, hingga simulasi dunia kerja sejak dini.

Dosen praktisi K3 FKM Undip, Dr. Bina Kurniawan, S.KM., M.Kes., yang telah lebih dari 25 tahun berkecimpung di bidang ini, menjadi salah satu sosok di balik transformasi tersebut. Ia menyebut, perjalanan K3 di Undip bermula dari sebuah peminatan kecil di akhir 1990-an.

“Awalnya hanya peminatan di Kesehatan Masyarakat sejak 1998. Tapi kebutuhan industri terus naik, sementara materi yang didapat mahasiswa masih terbatas,” ujar pria yang menempuh gelar Sarjana dan Doktor Kesehatan Masyarakat di Undip itu.

Selama bertahun-tahun, K3 hanya menjadi bagian kecil dari kurikulum. Mahasiswa baru benar-benar mendalami bidang ini di semester akhir. Kondisi itu dinilai tidak cukup untuk menjawab kebutuhan industri yang semakin kompleks.

Perubahan besar terjadi pada 2023, ketika Undip resmi membuka Program Studi S1 K3 sebagai program mandiri. Status baru ini bukan sekadar perubahan administratif, tetapi juga perombakan menyeluruh pada sistem pembelajaran.

Dr. Bina Kurniawan, S.KM., M.Kes. Dosen praktisi K3 FKM Undip.
Dr. Bina Kurniawan, S.KM., M.Kes. Dosen praktisi K3 FKM Undip.

Kini, mahasiswa sudah diperkenalkan pada K3 sejak semester pertama. Kurikulum dirancang lebih spesifik, dengan pendekatan yang mendekati praktik di lapangan.

“Kalau dulu K3 baru intens di semester lima, sekarang dari awal sudah belajar. Jadi ketika lulus, mereka sudah punya fondasi yang kuat,” kata Bina.

Transformasi ini juga terlihat pada gelar lulusan. Jika sebelumnya mahasiswa lulus sebagai Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) dengan peminatan K3, ke depan mereka akan menyandang gelar Sarjana K3 (S.K3), yang dinilai lebih relevan dengan kebutuhan industri.

Namun, perubahan kurikulum saja tidak cukup. Tantangan berikutnya adalah menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik. Untuk itu, Undip membangun ekosistem pembelajaran yang melibatkan alumni secara aktif.

Kisah Sukses Prodi K3 Undip, Ketika Alumni Jadi Jembatan

Sejak 2002, dibentuk forum yang mempertemukan mahasiswa dengan lulusan yang telah bekerja di berbagai sektor industri. Di forum ini, alumni tidak hanya berbagi pengalaman, tetapi juga memberikan pelatihan praktis yang sering kali tidak tercakup dalam kurikulum formal.

“Alumni itu yang menjembatani. Mereka memberi gambaran nyata bagaimana kondisi di lapangan,” ujar Bina.

Pendekatan ini menjadi kunci agar mahasiswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu menerapkannya. Praktik kerja lapangan (PKL), riset, hingga pelatihan menjadi bagian dari strategi untuk membangun pengalaman sejak dini.

Suasana praktikum mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Diponegoro.
Suasana praktikum mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Diponegoro.

Masalah klasik “fresh graduate tanpa pengalaman” coba dipecahkan lewat cara ini. Mahasiswa didorong memasukkan pengalaman PKL, proyek, hingga kegiatan lapangan ke dalam portofolio mereka. Hasilnya, daya serap lulusan terbilang tinggi. Dalam banyak kasus, lulusan sudah mendapatkan pekerjaan bahkan sebelum wisuda.

“Rata-rata kurang dari tiga bulan sudah bekerja. Bahkan ada yang baru sidang, langsung berangkat kerja,” kata Bina, yang mengantongi kompetensi sebagai asesor BNSP, auditor internal ISO 17025/2018, dan ahli K3 BNSP itu saat ditemui redaksi Majalah KATIGA, belum lama ini.

Keberhasilan ini tidak lepas dari peran jaringan alumni yang terus diperkuat. Ikatan alumni K3 Undip menjadi jalur distribusi informasi kerja sekaligus ruang rekomendasi bagi lulusan baru.

Dalam praktiknya, banyak perusahaan lebih dulu membuka lowongan kepada alumni internal sebelum diumumkan ke publik. Hal ini menciptakan semacam ekosistem rekrutmen tersendiri.

“Sekarang mahasiswa tinggal siapkan CV. Alumni yang membantu mencarikan peluang,” ujarnya.

Di sisi lain, minat terhadap bidang K3 terus meningkat. Jika pada awal berdiri hanya belasan mahasiswa yang memilih peminatan ini, kini jumlah peminat mencapai ratusan setiap tahun.

Lonjakan itu membuat seleksi semakin ketat. Tidak hanya nilai akademik, calon mahasiswa juga diuji dari aspek kesehatan, psikologi, hingga kebugaran fisik, yang semuanya mendekati standar rekrutmen industri.

Langkah ini diambil untuk memastikan kualitas lulusan tetap terjaga di tengah tingginya permintaan. Transformasi Prodi K3 Undip menunjukkan bagaimana pendidikan tinggi beradaptasi dengan kebutuhan nyata di lapangan. Kampus tidak lagi berdiri sebagai menara gading, tetapi menjadi bagian dari ekosistem industri itu sendiri.

Bagi Bina, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari jumlah lulusan, tetapi dari seberapa cepat dan tepat mereka terserap di dunia kerja. “Kami ingin lulusan tidak bingung mencari kerja. Justru perusahaan yang mencari mereka,” pungkasnya.

Pos terkait