Kolaka, katigamagz.com – Gelombang investasi yang masuk ke Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, membuka peluang besar bagi penciptaan lapangan kerja. Namun, di tengah pesatnya pembangunan kawasan industri dan proyek strategis nasional (PSN), pemerintah daerah menghadapi tantangan lain, yakni memastikan tenaga kerja lokal tidak tersisih dari kebutuhan industri yang terus berkembang.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kolaka menargetkan mayoritas pekerja di sektor industri dan pertambangan berasal dari masyarakat setempat. Target itu mengacu pada Peraturan Daerah Nomor 19 dan Peraturan Bupati Nomor 56 Tahun 2023 yang mengatur komposisi tenaga kerja sebesar 70 persen untuk warga lokal dan 30 persen untuk tenaga profesional dari luar daerah.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kolaka Ilham mengatakan pemenuhan kuota tersebut tidak bisa hanya mengandalkan kewajiban perusahaan. Kesiapan sumber daya manusia lokal menjadi faktor utama agar masyarakat mampu bersaing dan memenuhi kebutuhan industri.
“Sesuai regulasi, kami menerapkan proporsi penyerapan tenaga kerja sebesar 70 persen untuk masyarakat lokal Kolaka dan 30 persen untuk tenaga kerja profesional dari luar daerah,” kata Ilham, Selasa (2/6/2026).
Pemerintah daerah telah menyiapkan tiga strategi utama untuk meningkatkan peluang tenaga kerja lokal masuk ke kawasan industri. Pertama, memastikan perusahaan mematuhi aturan prioritas tenaga kerja lokal dalam proses rekrutmen.
Langkah kedua dilakukan melalui program pelatihan dan pemagangan yang dirancang sesuai kebutuhan industri. Skema ini diharapkan mampu menjembatani kesenjangan antara kebutuhan perusahaan dan kemampuan calon pekerja lokal.
“Output dari pelatihan dan pemagangan harus sesuai dengan kebutuhan riil perusahaan sehingga peserta bisa langsung terserap,” ujarnya.
Strategi ketiga adalah penguatan pendidikan vokasi untuk menciptakan tenaga kerja yang lebih adaptif terhadap perkembangan dunia usaha dan industri. Pemerintah daerah menilai pendidikan vokasi penting agar masyarakat tidak hanya bergantung pada sektor pertambangan yang saat ini sedang berkembang pesat.
Selain menyiapkan tenaga kerja industri, program peningkatan kapasitas juga diarahkan untuk mendukung pengembangan UMKM dan mendorong lahirnya pelaku usaha baru sehingga manfaat investasi dapat dirasakan lebih luas.
Masuknya investasi di sektor hilirisasi mineral, termasuk pengembangan kawasan industri di Kolaka, telah mengubah kebutuhan pasar tenaga kerja di daerah tersebut. Permintaan terhadap pekerja dengan keterampilan teknis terus meningkat, sementara sebagian tenaga kerja lokal masih menghadapi keterbatasan kompetensi dan pengalaman kerja.
Kondisi itu membuat peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu agenda utama pemerintah daerah. Ilham menilai keberhasilan investasi tidak hanya diukur dari besarnya modal yang masuk, tetapi juga dari seberapa besar dampaknya terhadap penyerapan tenaga kerja lokal.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga pendidikan menjadi kunci agar pertumbuhan industri dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Upaya tersebut, kata Ilham, turut berkontribusi terhadap penurunan angka pengangguran di Kolaka. Daerah ini bahkan meraih penghargaan sebagai kabupaten dengan kinerja terbaik dalam penurunan tingkat pengangguran pada Apresiasi Pemerintah Daerah 2026 Regional Sulawesi.
“Kehadiran PSN di daerah kita harus menciptakan simbiosis mutualisme. Investasi besar harus memberikan dampak positif yang nyata terhadap ekonomi masyarakat melalui penyediaan lapangan kerja yang luas,” imbuhnya.






