Grobogan, katigamagz.com – Aktivitas bongkar muat kayu merupakan salah satu pekerjaan dengan risiko kecelakaan yang tinggi. Mulai dari potensi tertimpa gelondongan kayu hingga cedera akibat penggunaan peralatan kerja, seluruh proses membutuhkan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) secara disiplin.
Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Gundih mengklaim mampu mempertahankan angka kecelakaan kerja tetap nihil di Tempat Penimbunan Kayu (TPK) Monggot, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Capaian tersebut ditopang oleh pengawasan rutin serta kepatuhan pekerja menggunakan alat pelindung diri (APD).
Kepala Seksi Pengelolaan Sumber Daya Hutan (PSDH) KPH Gundih, Arif Budhi, mengatakan monitoring K3 dilakukan secara berkala sebagai langkah mitigasi untuk menekan potensi kecelakaan pada aktivitas bongkar muat kayu.
“Langkah mitigasi ini penting untuk meminimalkan risiko kecelakaan kerja di wilayah TPK KPH Gundih. Alhamdulillah, hingga saat ini angka kecelakaan kerja pada tenaga bongkar muat kayu masih nihil,” ujar Arif Budhi.
Menurut Arif, salah satu faktor yang mendukung capaian tersebut adalah konsistensi pengawasan di lapangan. Kepala TPK Monggot terus mengingatkan pekerja agar mematuhi prosedur keselamatan dan menggunakan APD yang telah disediakan perusahaan.
Hasil pemantauan menunjukkan para pekerja menggunakan perlengkapan keselamatan secara lengkap, mulai dari helm, rompi, sarung tangan, hingga sepatu pelindung. Kepatuhan itu, kata Arif, lahir dari sinergi antara kesadaran pekerja dan pengawasan yang dilakukan pengelola.
“Keselamatan kerja tidak hanya bergantung pada aturan, tetapi juga pada kepedulian seluruh pihak dalam menjalankan prosedur yang telah ditetapkan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan tenaga bongkar muat asal Dusun Timongo, Desa Monggot, Suprojo. Ia mengaku penerapan standar keselamatan membuat para pekerja merasa lebih aman saat menjalankan aktivitas yang memiliki risiko tinggi.
“Keselamatan kerja sangat penting bagi kami. Dengan menggunakan APD seperti helm, sepatu, rompi, sarung tangan, dan masker, kami merasa lebih terlindungi saat bekerja. Kami juga merasakan perhatian perusahaan terhadap kesehatan dan keselamatan pekerja,” kata Suprojo.
Ia berharap komitmen tersebut terus dipertahankan sehingga keselamatan pekerja tetap terjaga dan memberikan manfaat bagi masyarakat yang bekerja di sekitar kawasan hutan.






