Prof. Tan Malaka Berpulang, Dunia K3 Kehilangan Salah Satu Penjaga Keselamatan Pekerja

Dunia keselamatan dan kesehatan kerja (K3) Indonesia kehilangan salah satu tokoh pentingnya. Prof. Dr. dr. Tan Malaka, MOH, DrPH, SpOk, HIU, berpulang pada Kamis, 17 September 2026, pukul 11.57 WIB, di ICU Rumah Sakit Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang. Ia meninggal dalam usia 80 tahun enam bulan. Lahir di Palembang, 31 Maret 1946, almarhum meninggalkan seorang istri, empat anak, dan tujuh cucu.

Palembang, katigamagz.com Kepergian Prof. Tan Malaka bukan sekadar kehilangan seorang akademisi dan dokter okupasi. Bagi komunitas K3, ia adalah sosok yang selama puluhan tahun mendedikasikan ilmu, pemikiran dan pengabdiannya untuk menempatkan keselamatan serta kesehatan pekerja sebagai bagian penting dari pembangunan.

Sampai akhir pengabdiannya, ia masih berada di tengah dunia K3. Jabatan terakhirnya adalah Ketua Advisory Board Indonesian Network of Occupational Health and Safety Professionals (INOSHPRO). Ia dikenal kritis, eksploratif dan tajam dalam berbicara. Kiprahnya melintasi dunia akademik, kesehatan okupasi, pendidikan, forum profesi, industri hingga kebijakan K3 nasional. Namanya juga tercatat sebagai anggota tim ahli Profil K3 Nasional Indonesia 2022.

Seorang Orator K3

Prof. Tan Malaka bukan sekadar pembicara K3. Ia adalah orator K3 dengan talenta kuat dalam menyampaikan gagasan. Setiap tampil di depan forum, gaya bicaranya yang lugas, kritis dan menohok mampu membuat audiens serius mendengarkan.

Kekuatan lainnya adalah perspektif kesehatan yang selalu ia bawa ke dalam K3. Sebagai dokter okupasi, ia tidak melihat keselamatan pekerja hanya dari ada atau tidak adanya kecelakaan.

Pekerja yang tidak mengalami kecelakaan tetapi kehilangan pendengaran akibat bising, mengalami gangguan pernapasan karena paparan bahan kimia, menderita gangguan muskuloskeletal atau penyakit akibat kerja, tetap merupakan persoalan K3.

Karena itu, ia konsisten membawa isu kesehatan kerja dan higiene industri. Bahaya kerja, menurut perspektif tersebut, tidak selalu hadir dalam bentuk ledakan, mesin bergerak atau kecelakaan besar. Bahaya juga bisa datang diam-diam melalui udara yang dihirup, suara yang didengar setiap hari, bahan kimia, maupun beban kerja yang perlahan menggerus kesehatan manusia.

Prof. Dr. dr. Tan Malaka, MOH, DrPH, SpOk, HIU.
Prof. Dr. dr. Tan Malaka, MOH, DrPH, SpOk, HIU.

Dalam salah satu program pelatihan kesehatan kerja, Prof. Tan Malaka tercatat sebagai instruktur yang membahas perlindungan pernapasan, mulai toksikologi sistem pernapasan, evaluasi medis pengguna respirator, pemilihan respirator, fit testing, hingga spirometri okupasi.

Perhatian pada K3 Tak Pernah Surut

Perhatian Prof. Tan Malaka terhadap K3 tak perlu diragukan. Bahkan menjelang akhir pengabdiannya, ia masih terlibat dalam pekerjaan strategis yang menyangkut masa depan regulasi K3 Indonesia.

Ia menjadi pakar bersama Tim DPR RI dalam merumuskan perubahan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, termasuk dalam penyusunan naskah akademik dan rancangan undang-undang.

Keterlibatan itu penting mengingat UU No. 1 Tahun 1970 telah berusia lebih dari setengah abad, sementara dunia kerja berubah cepat. Teknologi, digitalisasi, otomatisasi, pola kerja baru, jenis bahaya yang semakin kompleks serta persoalan kesehatan kerja membutuhkan kerangka regulasi yang mampu menjawab perkembangan zaman.

Di ruang strategis itulah Prof. Tan Malaka masih memberikan kontribusi. Seorang tokoh yang sepanjang hidupnya berbicara tentang perlindungan pekerja, pada penghujung pengabdiannya ikut menyumbangkan pemikiran untuk memperkuat fondasi hukum K3 Indonesia.

Sekilas Perjalanan K3

Perkenalan Prof. Tan Malaka dengan Occupational Health and Safety (OSH/K3) bermula di Filipina. Di sana ia mendapat pengajaran dari Prof. Dr. F. Jose, lulusan Harvard, dan Prof. Lina C. Somera, lulusan University of Cincinnati. Pada 1979, ia menyelesaikan pendidikan dan meraih gelar MOH.

Sekembalinya ke Universitas Sriwijaya, ia justru mendapati K3 belum mendapat perhatian memadai. Kekecewaan itu menjadi bagian dari perjalanan panjangnya dalam memperjuangkan kesehatan kerja.

Awal 1980-an menjadi momentum penting. Saat gerakan lingkungan menguat di Indonesia di bawah Prof. Dr. Emil Salim yang kala itu menjabat Menteri Lingkungan Hidup, Unsri diminta mendirikan Pusat Studi Lingkungan (PSL). Rektor kemudian menunjuk dr. Tan Malaka, MOH sebagai ketuanya. Tugas tersebut membuatnya kerap bolak-balik Palembang–Jakarta dan semakin dekat dengan Prof. Emil Salim.

Pada 1985, ia melanjutkan pendidikan doktoral di University of Hawaii at Manoa, Amerika Serikat, mengambil bidang kesehatan publik dengan penelitian di Gresik, Jawa Timur. Tiga tahun kemudian, ia meraih gelar DrPH.

Namun sekembalinya ke Palembang, perjalanan kariernya kembali menghadapi persoalan. Dalam sebuah pernyataan, ia menyebut situasi tersebut sebagai “stagnasi” karena belum adanya perencanaan universitas terhadap pengembangan SDM bergelar doktor dari luar negeri.

Jalan Prof. Tan Malaka di dunia K3 memang tidak selalu mulus. Namun ia terus berjalan: mengembangkan ilmu, mengajar, meneliti, berbicara dan membawa isu kesehatan kerja ke ruang publik.

Pekerja Bukan Sekadar Angka

Di tengah dunia industri yang mengejar produktivitas, efisiensi dan target produksi, suara tentang kesehatan pekerja kerap tenggelam. Prof. Tan Malaka mengingatkan bahwa di balik setiap angka produksi terdapat manusia.

Di balik setiap jam kerja ada tubuh manusia. Di balik setiap target ada manusia yang mengerjakannya. Dan di balik setiap statistik kecelakaan kerja ada keluarga yang menunggu seseorang pulang.

Karena itu, K3 tidak semestinya direduksi menjadi dokumen, sertifikat, checklist atau pemenuhan persyaratan audit. K3 pada akhirnya berbicara tentang manusia.

Dalam seminar K3 konstruksi pada 2026, ia menyoroti sektor konstruksi sebagai sektor berisiko tinggi dan mengingatkan bahwa aspek kesehatan serta higiene pekerja kerap terabaikan. Sanitasi, air bersih, pengendalian vektor, pengelolaan limbah domestik dan kualitas udara di tempat kerja tidak boleh luput dari perhatian.

Pesannya mendasar: K3 tidak boleh hanya sibuk menghitung kecelakaan setelah manusia menjadi korban. K3 harus bekerja jauh sebelum itu: mengenali bahaya, memahami paparan, mengendalikan risiko dan mencegah penyakit sebelum kerusakan terjadi.

Guru yang Meninggalkan Jejak

Sebagai akademisi, Prof. Tan Malaka meninggalkan jejak melalui mahasiswa, peneliti dan profesional yang pernah berinteraksi dengannya. Ia dikenal sebagai pembimbing dan penguji yang membawa perspektif kesehatan kerja ke dalam proses akademik.

Jejak seorang guru tidak berhenti ketika ia meninggalkan ruang kuliah. Ia hidup dalam penelitian yang diteruskan, keputusan profesional yang dibuat berdasarkan ilmu yang pernah diajarkan, dan budaya keselamatan yang tumbuh dari gagasan yang pernah ditanamkan.

Karena itu, kepergiannya bukan hanya kehilangan bagi keluarga dan lingkungan akademik. Dunia K3 kehilangan seorang guru yang selama puluhan tahun ikut membangun pengetahuan dan kesadaran tentang kesehatan manusia di tempat kerja.

Pukul 11.57 dan Sebuah Warisan

Kamis, 17 September 2026, pukul 11.57 WIB, menjadi titik akhir perjalanan Prof. Dr. dr. Tan Malaka, MOH, DrPH, SpOk, HIU.

Dari Palembang, 31 Maret 1946, hingga Palembang pula ia mengembuskan napas terakhir. Ia meninggalkan seorang istri, empat anak dan tujuh cucu.

Namun dunia K3 juga kehilangan bagian dari keluarga besarnya: para murid, kolega, profesional, akademisi dan praktisi yang pernah belajar dan bekerja bersamanya.

Yang tersisa bukan sekadar nama dan gelar. Ada jejak dalam ilmu kesehatan kerja, pendidikan, profesi K3, higiene industri dan pemikiran kebijakan. Salah satu jejak terakhirnya adalah keterlibatan dalam proses merumuskan perubahan UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja bersama Tim DPR RI.

Prof. Tan Malaka telah pergi. Namun pekerjaan besar K3 belum selesai.

Teknologi akan terus berubah. Dunia kerja akan terus bergerak. Risiko akan terus bermetamorfosis. Tetapi satu hal tidak boleh berubah: manusia harus tetap menjadi alasan utama mengapa K3 ada.

Itulah warisan Prof. Tan Malaka. Bukan sekadar gelar. Bukan sekadar jabatan. Melainkan keberanian untuk terus berbicara ketika K3 membutuhkan suara; keberanian mengingatkan bahwa pekerja bukan angka; dan keyakinan bahwa keselamatan serta kesehatan kerja adalah bagian dari martabat manusia.

Selamat jalan, Prof. Tan Malaka.

Dunia K3 Indonesia kehilangan seorang tokoh. Tetapi ilmu, pemikiran dan pengabdian Anda akan terus menjadi bagian dari perjalanan perjuangan keselamatan dan kesehatan pekerja Indonesia.

Pos terkait