Jakarta, katigamagz.com – Rentetan kecelakaan kereta cepat di Spanyol sepanjang 2026 yang menewaskan sedikitnya 76 orang memunculkan perhatian serius terhadap penerapan standar keselamatan transportasi perkeretaapian. Insiden tersebut menjadi pengingat bahwa kecepatan dan efisiensi perjalanan harus berjalan beriringan dengan jaminan keselamatan penumpang.
Menanggapi tragedi tersebut, Dr. Beni Cahyadi, seorang QHSE (Quality, Health, Safety, and Environment), Sustainability & Waste Management Specialist, menegaskan bahwa keselamatan merupakan fondasi utama mutu pelayanan dalam industri transportasi.
Menurutnya, keselamatan bukan sekadar fasilitas tambahan atau nilai lebih yang ditawarkan operator kepada penumpang, melainkan kewajiban mendasar yang harus dipenuhi dalam setiap penyelenggaraan layanan transportasi.
“Keselamatan adalah mutu dan mutu adalah keselamatan. Keduanya tidak dapat dipisahkan dalam industri transportasi. Ketika seseorang membeli tiket kereta, secara hukum telah terbentuk hubungan kontraktual yang mewajibkan operator memastikan penumpang sampai ke tempat tujuan dengan selamat,” ujar Beni, Sabtu (31/10/2026).
Ia menjelaskan, dalam perspektif manajemen kualitas, keselamatan merupakan kebutuhan dasar (basic requirement) yang harus menjadi prioritas tertinggi.
Berbagai keunggulan layanan, mulai dari kecepatan perjalanan, ketepatan waktu, hingga kenyamanan fasilitas, menurutnya akan kehilangan makna apabila operator tidak mampu menjamin keselamatan penumpang.
“Kecepatan dan kenyamanan tidak boleh mengalahkan aspek keselamatan. Sebab, seluruh indikator mutu pelayanan akan kehilangan nilainya ketika terjadi kegagalan dalam mengendalikan risiko kecelakaan,” jelasnya.
Beni menilai, dua kecelakaan besar kereta cepat di Spanyol sepanjang 2026 harus menjadi bahan evaluasi serius bagi penyelenggara transportasi kereta api di berbagai negara.
Dalam dua insiden tersebut, sedikitnya 76 orang meninggal dunia. Kecelakaan pertama terjadi di dekat Adamuz, Spanyol selatan, pada Januari 2026 dengan korban jiwa 46 orang. Sementara kecelakaan terbaru di wilayah Urda, Castilla-La Mancha, pada Rabu (28/10/2026), menewaskan sedikitnya 30 orang.
Menurut Beni, peristiwa tersebut menunjukkan pentingnya penguatan sistem manajemen keselamatan, baik dari sisi infrastruktur, sarana perkeretaapian, sistem persinyalan, maupun kompetensi sumber daya manusia yang terlibat dalam operasional.
Ia menekankan bahwa operator kereta api harus menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan Perkeretaapian (SMKP) secara konsisten, terukur, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Penguatan sistem keselamatan harus dilakukan secara menyeluruh. Operator wajib memastikan kelayakan sarana dan prasarana melalui audit berkala, pemeliharaan sistem persinyalan otomatis, serta pengawasan terhadap seluruh proses operasional,” katanya.
Selain itu, peningkatan kompetensi masinis dan petugas operasional juga menjadi bagian penting dalam mencegah kecelakaan.
Pendidikan dan pelatihan terkait manajemen risiko harus dilakukan secara berkelanjutan agar setiap personel mampu mengidentifikasi potensi bahaya dan mengambil tindakan pencegahan secara tepat.
Beni juga menyoroti pentingnya evaluasi terhadap sistem pengendalian perjalanan kereta, termasuk efektivitas teknologi keselamatan otomatis dan prosedur penanganan kondisi darurat.
Menurutnya, penerapan standar keselamatan tidak boleh hanya berorientasi pada pemenuhan dokumen administratif atau sertifikasi, tetapi harus benar-benar menjadi budaya kerja dalam seluruh aktivitas operasional.
“Keselamatan harus menjadi budaya organisasi, bukan hanya sebatas kewajiban administratif. Setiap potensi bahaya harus diidentifikasi, dinilai, dan dikendalikan sebelum berkembang menjadi kecelakaan. Prinsip pencegahan harus lebih diutamakan daripada penanganan setelah insiden terjadi,” tegasnya.
Ia menambahkan, komitmen terhadap keselamatan juga membutuhkan pengawasan dan evaluasi secara berkesinambungan. Setiap insiden maupun temuan potensi bahaya harus dijadikan bahan pembelajaran untuk memperbaiki sistem dan mencegah kejadian serupa terulang.
Beni berharap tragedi di Spanyol menjadi momentum bagi seluruh penyelenggara transportasi kereta api untuk memperkuat standar keselamatan, meningkatkan kualitas pemeliharaan infrastruktur, serta memastikan seluruh prosedur operasional dijalankan secara disiplin.
“Pada akhirnya, keberhasilan transportasi kereta api bukan hanya diukur dari seberapa cepat penumpang tiba di tujuan, tetapi juga bagaimana operator memastikan mereka tiba dengan selamat. Keselamatan adalah janji utama yang harus dipenuhi kepada masyarakat,” pungkasnya.






