Jakarta, katigamagz.com – Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) harus menjadi prioritas utama di setiap sektor. Ia meminta jajaran Balai K3 untuk lebih aktif dalam mencegah kecelakaan kerja, bukan sekadar menangani kasus yang sudah terjadi.
Penegasan itu disampaikan saat meninjau Balai Besar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (BBK3) Jakarta, Selasa (14/4). Dalam kunjungan tersebut, Yassierli menyoroti pentingnya pendekatan pencegahan yang lebih kuat di lapangan.
“Upaya promotif dan preventif sangat penting. Saya instruksikan seluruh jajaran BBK3 Jakarta untuk bergerak lebih masif dalam menjalankan fungsi pengawasan dan edukasi,” ujar Yassierli, dalam keterangannya, Rabu (15/4/2026).
Menurut dia, setiap kecelakaan kerja tidak bisa dipandang sebagai sekadar angka statistik. Di baliknya, ada risiko terhadap keselamatan jiwa pekerja hingga dampak sosial bagi keluarga.
“Ini menyangkut keselamatan jiwa, keberlangsungan keluarga, dan kepercayaan terhadap sistem perlindungan tenaga kerja,” katanya.
Yassierli menilai peran Balai K3 perlu diperkuat agar tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga mampu membaca potensi risiko di lapangan dan mendorong terbentuknya budaya keselamatan kerja.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PJK3), untuk menekan angka kecelakaan kerja secara lebih efektif.
“PJK3 bukan saingan kita, melainkan mitra untuk mencapai tujuan bersama, yaitu menurunkan angka kecelakaan kerja di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Selain itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia di lingkungan Balai K3 turut menjadi perhatian. Yassierli meminta pegawai tidak hanya menguasai aspek teknis, tetapi juga kemampuan manajerial dan analisis data.
“Setiap penguji harus menguasai budaya K3, Sistem Manajemen K3, hingga manajemen risiko. Kemampuan mengolah data statistik juga penting,” katanya.
Ia juga mengingatkan pejabat fungsional untuk terus meningkatkan kompetensi seiring jenjang karier. Menurutnya, semakin tinggi jabatan, orientasi kerja harus bergeser ke arah strategis dan kebijakan.
“Semakin tinggi jabatan, orientasinya harus lebih manajerial dan strategis,” ujar Yassierli.
Pihaknya juga berharap penguatan fungsi pencegahan dan kolaborasi lintas sektor dapat menekan angka kecelakaan kerja sekaligus meningkatkan perlindungan tenaga kerja di Indonesia.






