Mentan Sebut 90 Persen Perusahaan Sudah Naikkan Harga TBS Sawit

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. (Foto : Kementan)
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. (Foto : Kementan)

Jakarta, katigamagz.com – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah sempat merosot dalam beberapa pekan terakhir. Namun pemerintah masih menemukan puluhan perusahaan yang belum menyesuaikan harga pembelian TBS sesuai ketentuan yang berlaku.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan, sebagian besar perusahaan sawit telah kembali menaikkan harga beli TBS ke kisaran normal, yakni Rp3.200 hingga Rp3.600 per kilogram, sesuai penetapan masing-masing daerah.

Bacaan Lainnya

Pemulihan harga ini terjadi setelah pemerintah memanggil pelaku usaha sawit dan meminta perusahaan mengembalikan harga pembelian TBS yang sebelumnya turun di tingkat petani.

“Sudah 80, 85, mungkin 90% (perusahaan) sudah menaikkan (harga TBS). Tetapi yang belum naik, tetap kita telusuri bersama Satgas,” kata Amran dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Selatan, Rabu (17/6/2026).

Data Kementerian Pertanian menunjukkan masih terdapat sekitar 130 perusahaan dari total 1.900 perusahaan sawit yang belum melakukan penyesuaian harga. Jumlah tersebut turun cukup tajam dibandingkan pekan sebelumnya yang mencapai 274 perusahaan.

Menurut Amran, pemerintah akan terus memantau perkembangan harga di lapangan untuk memastikan kenaikan yang sudah dilakukan perusahaan tidak kembali turun dalam waktu singkat.

“Jadi sekarang tinggal 130-an perusahaan yang belum menaikkan, yang lainnya sudah naik. Tapi tetap kita monitor. Bukan saja naik lalu turun kembali, tidak. Kita monitor seluruh Indonesia,” ujarnya.

Anjloknya harga TBS sebelumnya memicu keluhan petani di sejumlah daerah sentra sawit. Penurunan harga itu dinilai tidak sejalan dengan kondisi pasar global yang justru menunjukkan tren positif.

Kementerian Pertanian menilai turunnya harga TBS saat itu merupakan sebuah anomali. Sebab harga minyak sawit mentah (CPO) dunia sedang menguat, sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah hingga menembus Rp18.000 per dolar AS.

Dalam kondisi normal, kombinasi kedua faktor tersebut seharusnya menjadi sentimen positif yang mendorong kenaikan harga sawit di tingkat petani.

“Ini ada anomali, di saat ini harga harusnya naik bukan turun. Kenapa? Karena nilai dolar selisih sudah naik 10 persen. Harusnya naik, tidak ada alasan turun,” kata Amran.

Ia menegaskan seluruh asosiasi dan pelaku usaha yang hadir dalam pertemuan dengan pemerintah sebelumnya telah sepakat mengembalikan harga TBS ke level sebelum penurunan terjadi.

 

Pos terkait