Priyadi Sutarso: Dari Kampung Petani ke Puncak Tangga Tambang

“Jangan menganggap yang biasa sebagai sesuatu yang benar. Biasakan melakukan yang benar.” Bagi Priyadi Sutarso, kalimat itu menjadi pegangan dalam membangun keselamatan kerja. Kesalahan yang terus diulang akan dianggap wajar, lalu berubah menjadi pola pikir dan budaya. Ketika yang salah dinormalisasi, kecelakaan hanya tinggal menunggu waktu.

Jakarta, katigamagz.com – Pesan itu telah lama disampaikan Direktur Utama PT Adaro Indonesia ini sejak menjadi Kepala Teknik Tambang (KTT) hingga kini berada di jajaran pimpinan perusahaan. Menurutnya, masalah keselamatan sering bermula dari hal yang dianggap sepele. Naik motor tanpa helm, misalnya. Karena sering dilakukan dan tidak terjadi apa-apa, perilaku itu akhirnya dianggap biasa. Padahal, yang biasa belum tentu benar.

“Untuk mengubah budaya itu tidak mudah,” kata Priyadi saat berbincang bersama Pimpinan Umum Majalah KATIGA(27/8/2026). Pengalaman panjang di lapangan membuatnya memahami bahwa budaya keselamatan membutuhkan proses dan konsistensi. Sistem dan SOP dapat dibuat, tetapi perubahan perilaku tidak terjadi seketika.

Tidak Berangkat dari Ruang Rapat

Priyadi memahami dunia tambang dari lapangan. Pendidikan formalnya ditempuh di Teknik Pertambangan UPN “Veteran” Yogyakarta. Kariernya dimulai sebagai engineer dan melewati berbagai jenjang hingga menjadi KTT, division head, director, dan kini dipercaya sebagai Direktur PT Adaro Andalan Indonesia Tbk., Direktur Utama PT Adaro Indonesia, serta Komisaris di beberapa anak perusahaan Adaro Group.

Dari perjalanan itu, posisi KTT paling membekas. “Jabatan yang paling membanggakan, membekas pada diri saya sebagai seorang mining engineer adalah KTT,” ujarnya. Di posisi tersebut, persoalan bukan hanya teknis, tetapi juga manusia, operasional, keselamatan, dan keputusan yang harus diambil dalam kondisi nyata.

Pengalaman itu kemudian dibawanya ke level manajemen. Bagi Priyadi, operasi harus aman, efektif, dan efisien. Visi ditetapkan, lalu diturunkan menjadi misi, target, rencana kerja, penanggung jawab, sistem, biaya, dan waktu. PDCA (Plan Do Check Action) digunakan agar rencana tidak berhenti sebagai dokumen.

Namun, sistem tidak boleh bergantung pada satu orang. “Tidak hanya tergantung Priyadi. Nanti Priyadi pergi, ya nggak jalan,” katanya. Sistem harus tetap berjalan meski orang berganti. SOP tersedia, pengganti mendapat pembekalan, dan pekerja yang kembali setelah lama meninggalkan pekerjaan perlu disegarkan kembali.

Keselamatan Bukan Urusan Satu Orang

Bagi Priyadi, keselamatan bukan urusan petugas K3 atau manajemen semata. Setiap orang bertanggung jawab terhadap dirinya, orang lain, dan harta benda yang digunakan dalam pekerjaan. Pekerja harus memahami tugasnya, mengenali potensi bahaya, dan mengelolanya sebelum berubah menjadi kecelakaan.

Ia menyebut keselamatan sebagai investasi. Ketika kecelakaan terjadi, dampaknya tidak berhenti pada pekerja. Ada jam kerja yang hilang, pekerjaan terganggu, produksi dapat turun, perusahaan terdampak, dan keluarga ikut merasakan akibatnya. “Keselamatan ini investasi sebenarnya,” tegasnya.

Karena itu, K3 tidak boleh hanya muncul ketika ada pemeriksaan atau kompetisi. Keselamatan harus tetap dijalankan ada atau tidak ada lomba.

Priyadi juga mengingatkan agar pekerjaan tidak hanya dinilai dari uang yang dibawa pulang. Pekerjaan harus menghasilkan pengalaman dan karakter. “Bekerja ini harus dinilai dari pembelajarannya. Yang membentuk karakter kita,” katanya. Ia tumbuh dengan nilai didikan Jawa: ‘rame ing gawe, sepi ing pamrih’ artinya bekerja sebaik-baiknya tanpa sibuk menghitung imbalan.

Pemimpin Harus Hadir

Menjadi orang nomor satu tidak membuat Priyadi bekerja dari balik meja. Ia masih rutin berkunjung ke lokasi, mengikuti ‘town hall’ dan pertemuan langsung, serta berkomunikasi secara daring. Di lapangan, ia terbiasa menyapa orang yang ditemui. Ia menyebutnya ‘diwongke’ atau memanusiakan orang. Ketika orang merasa dihargai, rasa saling menghormati tumbuh.

Ia percaya pemimpin harus memberi contoh. Perubahan perilaku tidak mudah terjadi jika hanya diperintahkan dari atas. Pemimpin harus ikut menjalankannya.

Ada bagian lain dari pemikiran Priyadi yang menarik. Ketika berbicara kepada pekerja, ia tidak selalu bicara soal target dan produksi. Ia sering mengingatkan agar orang tidak hanya menghitung pekerjaan dari berapa banyak uang yang dibawa pulang.

Keselamatan juga dikaitkan dengan inovasi. Pekerja diberi ruang mengembangkan gagasan melalui konvensi inovasi. Yang dinilai bukan hanya keselamatan, tetapi juga efisiensi, biaya, waktu, dan lingkungan. Bagi Priyadi, penghargaan tidak selalu harus berupa uang. “Pengakuan itu penting. Nilainya melebihi uang,” katanya. Reward dan punishment tetap diperlukan agar standar tidak berhenti sebagai tulisan.

Dari Kampung Petani

Di balik sosok pimpinan perusahaan tambang, Priyadi membawa latar belakang keluarga petani. Nilai-nilai dari kampung tetap dibawanya ke dunia industri, tetapi cara menerapkannya harus disesuaikan. Di industri ada sistem, target, dan risiko yang harus dikelola. Karena itu, ia memilih untuk terus belajar dan berani “menolkan diri”.

Ia masih mengingat petuah orang tua ketika listrik belum ada dan malam terang bulan menjadi waktu berkumpul. Nilai tentang tanggung jawab, kejujuran, kehormatan, dan menghargai orang lain tetap relevan. Tantangannya adalah menyampaikannya dengan bahasa yang dapat diterima generasi muda.

‘Zero Fatality’ Harus Menjadi Tekad

Bagi Priyadi, zero fatality harus menjadi tekad bersama. Ia mengakui bahwa mencapai zero accident bukan perkara sederhana karena budaya keselamatan dan perubahan perilaku membutuhkan waktu. Namun kesulitan bukan alasan untuk berhenti memasang target. “Kalau bilang kita nggak bisa, kan nyerah sebelum berperang,” ujarnya.

Karena itu, setiap orang harus memahami perannya. Target ditetapkan, risiko dikenali, dan pelaksanaan dievaluasi. Orang boleh berganti, jabatan boleh berpindah, tetapi kebiasaan bekerja dengan aman harus tetap tinggal.

Itulah inti pandangan Priyadi tentang K3: membangun manusia yang tidak sekadar patuh karena diawasi, tetapi terbiasa memilih cara yang benar meski tidak ada yang melihat.

Pos terkait