Jakarta, katigamagz.com – Program mudik gratis yang digelar Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) dimanfaatkan banyak perantau berpenghasilan rendah di Jakarta. Sejumlah peserta berasal dari kalangan pekerja informal, mulai dari asisten rumah tangga (ART) hingga buruh harian yang menggantungkan penghasilan dari pekerjaan serabutan.
Bagi mereka, biaya perjalanan pulang kampung menjelang Lebaran sering kali menjadi beban tersendiri. Harga tiket yang meningkat membuat sebagian pekerja harus menunda mudik atau menyisihkan penghasilan dalam waktu lama.
Samino, buruh harian di sebuah gudang di Jakarta, mengaku program tersebut sangat membantu. Dengan penghasilan yang tidak menentu, ia harus berhitung ketat jika ingin pulang ke kampung halaman di Banyumas.
“Kalau kerja ada ya dapat, kalau tidak ya tidak. Jadi ongkos mudik itu cukup berat,” kata Samino, sebelum keberangkatan peserta mudik gratis di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Senin (16/3/2026).
Ia memperkirakan biaya perjalanan menuju Banyumas saat musim mudik bisa mencapai Rp400 ribu hingga Rp500 ribu per orang. Melalui program mudik gratis, ia tidak perlu lagi memikirkan biaya tersebut.
Menurut Samino, uang yang seharusnya digunakan untuk ongkos perjalanan kini bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga di kampung.
“Kalau ikut program ini jadi lebih hemat. Uangnya bisa dipakai untuk kebutuhan di rumah atau berbagi dengan keluarga,” ujarnya.
Cerita serupa disampaikan Widya, seorang asisten rumah tangga di Jakarta yang juga ikut program mudik gratis tahun ini. Ia mengaku sudah beberapa kali memanfaatkan fasilitas tersebut karena dinilai sangat membantu pekerja dengan penghasilan terbatas.
“Sudah tiga kali ikut. Lumayan sekali karena tidak perlu keluar biaya mudik,” kata Widya.
Ia berharap program tersebut tetap digelar setiap tahun agar para perantau, khususnya pekerja informal, tetap memiliki kesempatan pulang kampung tanpa terbebani biaya transportasi.
Program mudik gratis yang digelar Pemprov Jateng tahun ini menggunakan dua moda transportasi darat, yakni bus dan kereta api. Khusus keberangkatan dari kawasan TMII, disiapkan ratusan bus untuk mengangkut belasan ribu pemudik menuju berbagai daerah di Jawa Tengah.
Peserta program tersebut sebagian besar berasal dari kalangan pekerja informal yang merantau di wilayah Jabodetabek.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan program ini ditujukan untuk membantu masyarakat berpenghasilan rendah agar tetap bisa pulang ke kampung halaman saat Lebaran.
“Dengan mudik gratis, masyarakat bisa pulang tanpa terbebani biaya perjalanan,” kata Luthfi.






