Kondisi infrastruktur yang sudah berusia puluhan tahun dan aspek manusia atau ‘human factor’ sering kali jadi akar persoalan mengapa kecelakaan itu terjadi. Maka penting sekali menanamkan nilai-nilai K3 dalam semua aktivitas pekerjaan.

Jakarta, katigamagz.com – Sigit Pudyoko, memulai kariernya di Pertamina sejak 2003. Lulusan Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB) itu masuk melalui program Pembimbingan Profesi Sarjana dan langsung menapaki fungsi HSSE (Health, Safety, Security & Environment).
Dua dekade lebih berkutat pada keselamatan kerja, Sigit kini menjabat sebagai Vice President HSSE Portfolio and New Business PT Pertamina (Persero), peran yang mengembalikannya “ke rumah” di ranah keselamatan setelah berbagai penugasan di lapangan dan proyek strategis.
Penempatan pertama Sigit di Unit Pemasaran dan Niaga Palembang memperkenalkan ia pada ragam tantangan HSSE di sektor hilir, mulai dari terminal BBM, terminal LPG, pengisian bahan bakar pesawat, hingga jaringan SPBU.
Selama hampir lima tahun ia mengasah kemampuan supervisi lapangan, seperti mengawasi penerimaan hingga penyaluran bahan bakar, sebelum melanjutkan studi S2 bidang Kesehatan Lingkungan Kerja di Universitas Diponegoro pada 2008 dengan beasiswa perusahaan.
Kembali dari jenjang magister pada 2010, jenjang karier Sigit menanjak. Ia dipromosikan menjadi Manager HSE Marketing Operation Region VII yang berkantor di Makassar dan membawahi kegiatan HSE di sekitar seluruh Sulawesi.
Pengalaman lintas wilayah dan fungsi kemudian membawanya ke posisi Asmen HSE di pusat pada 2014, dan ke ranah energi terbarukan ketika menangani aspek lingkungan di Pertamina Geothermal Energy. Sejak 2021 Sigit juga terlibat dalam proyek kilang besar PRPP di Tuban, yang masih menunggu keputusan akhir investasi.
Di level korporat, tugasnya kini meliputi pengelolaan portofolio HSSE anak Perusahaan. Dari fasilitas layanan kesehatan, pelatihan, hingga unit-unit operasional yang lebih kecil.
“Dari pendidikan sampai karier, rumah saya memang di HSE,” ujarnya, kepada Majalah KATIGA.
Menurut Sigit, dua tantangan terbesar HSE di Pertamina berjalan beriringan. Pertama, kondisi infrastruktur yang banyak berusia puluhan tahun, bahkan beberapa fasilitas berdiri sejak 1970, hingga membuat kekuatan material dan mekanikal sudah melewati masa hidup rancangannya.
Di sisi lain, proses operasional di kilang bersifat dinamis. Tekanan dan temperatur berubah terus-menerus sehingga kebutuhan inspeksi dan pemeliharaan harus lebih intensif.
Kedua, aspek manusia atau human factor sering kali jadi akar kecelakaan. Meski prosedur dan teknologi tersedia, kecerobohan, supervisi yang melemah, dan kebiasaan “shortcut” berulang menjadi penyebab kecelakaan yang utama.
Untuk itulah Sigit menekankan pentingnya culture dan behavior. Keselamatan harus dipahami sebagai hak pekerja, bukan sekadar aturan yang dipatuhi karena kewajiban.
Pertamina mengoperasikan serangkaian langkah untuk menutup celah risiko. Di tingkat sistem, ada upaya konsolidasi standar melalui apa yang disebut “Supreme Pertamina”, kerangka manajemen yang menangkap ekspektasi HSE, kompetensi, manajemen risiko, dan leadership agar tidak bergantung pada standar yang silo atau berubah-ubah.
Untuk mengelola tenaga kerja dan kontraktor, yang menangani 70–90% pekerjaan perbaikan, perusahaan menerapkan Contractor Safety Management System (CSMS) dengan pra-kualifikasi, penilaian HSE ketat, dan passing grade minimal. Kontraktor yang lalai dapat di-blacklist, sedangkan yang baik dibina agar bisa terus berkontribusi di daerah masing-masing.
“Di daerah, banyak kontraktor lokal yang menggantungkan hidupnya pada proyek. Kita beri kesempatan tetapi dengan pembinaan,” jelasnya.
Pembinaan juga diwujudkan lewat program coaching clinic, training berjenjang sesuai level pekerjaan, dan inisiatif wellness yang menyasar kesehatan fisik dan psikososial pekerja, dari MCU ketat (“No MCU, No Entry”) hingga program senam, komunitas olahraga, dan wellness camp. Sigit merangkum tujuan program-program ini dalam jargon Perusahaan, yakni sehat, bugar, senang, dan produktif.
Di sisi teknologi, Pertamina mulai menempatkan alat bantu; detector gas, sistem deteksi berbasis kamera yang memantau penggunaan APD, hingga kajian penggunaan citra satelit untuk deteksi konsentrasi gas. Pendekatan hybrid, manusia terlatih plus teknologi pemantauan, dinilai efektif untuk memperkecil celah yang muncul akibat kelalaian manusia.
Dari Insiden ke Pembelajaran
Setiap insiden di Pertamina ditindaklanjuti lewat investigasi dan dokumen pembelajaran (Learning From Event/LFE). Namun Sigit mengakui tantangan implementasi, seperti penyebaran LFE ke seluruh lini operasi belum menyentuh semua level pekerja.
“Mungkin hanya 10–25 persen yang benar-benar menerima materi pembelajaran itu. Sehingga upaya diseminasi dan komunikasi internal terus dikembangkan,” tuturnya.
Pendekatan komunikatif juga mengarah ke public, diantaranya dengan mengundang media untuk simulasi, dialog dengan masyarakat ring satu proyek, dan pelatihan publik seperti pemadaman kebakaran domestik.
Sigit menekankan pentingnya pesan yang sederhana dan sesuai audiens. “Jangan pakai istilah teknis jika audiensnya ibu-ibu rumah tangga,” ujarnya mencontohkan, sehingga pesan keselamatan punya daya guna nyata.
Membangun kilang baru tentu solusi ideal, namun investasi dan waktu sering kali menjadi kendala. Oleh sebab itu revitalisasi kilang lama sekaligus pembangunan kilang baru seperti Balikpapan dan PRPP Tuban menjadi prioritas strategis untuk mengurangi ketergantungan impor.
Di ranah HSE, Sigit menegaskan bahwa kunci bukan sekadar sistem di atas kertas, melainkan konsistensi pelaksanaan, pembinaan manusia, serta adopsi teknologi yang relevan.
“Kalau mau benar-benar aman, bangun baru. Tapi sementara itu, kita perkuat inspeksi, maintenance, dan behavior manusia. Keselamatan adalah hak, kita wajib menjaganya,” tutupnya.(*)





