IFRC 2026: Menguji Nyali, Kompetensi, dan Fisik di Industri Tambang

Konferensi pers. Ketiga narasumber, dari kiri, Ketua Panitia IFRC 2026, Periadi, Kepala Teknik Tambang PTFI, Carl Tauran, dan Koordinator Juri (Perwakilan Pertapindo), Wiyono Winarno. (Foto: Galeri Papua/Fernando Rio-edit)
Konferensi pers. Ketiga narasumber, dari kiri, Ketua Panitia IFRC 2026, Periadi, Kepala Teknik Tambang PTFI, Carl Tauran, dan Koordinator Juri (Perwakilan Pertapindo), Wiyono Winarno. (Foto: Galeri Papua/Fernando Rio-edit)

Sebanyak 17 tim dari 16 perusahaan pertambangan dan energi akan beradu kompetensi dalam Indonesian Fire & Rescue Competition (IFRC) 2026 di Timika, Papua. Bukan sekadar mengejar gelar juara, kompetisi ini menjadi ujian kesiapan menghadapi situasi darurat ketika kesalahan prosedur dan keterlambatan tindakan dapat berujung pada hilangnya nyawa.

 

Timika, katigamagz.com – Dalam industri pertambangan dan energi, keadaan darurat bukan sekadar kemungkinan yang tercantum dalam dokumen manajemen risiko. Kebakaran, kecelakaan kendaraan, runtuhnya struktur, hingga insiden di ruang terbatas dapat berubah menjadi tragedi ketika tim penyelamat gagal bertindak cepat, tepat, dan terkoordinasi.

Di tengah risiko tersebut, kemampuan personel tanggap darurat menjadi pertaruhan yang tidak bisa dianggap enteng. Karena itu, Indonesian Fire & Rescue Competition (IFRC) 2026 yang digelar pada 24–31 Oktober 2026 di PT Freeport Indonesia, Timika, Papua, bukan sekadar arena adu keterampilan. Kompetisi dua tahunan di bawah naungan Perhimpunan Tanggap Darurat di Bidang Pertambangan dan Energi Indonesia (PERTAPINDO) ini menjadi kesempatan menguji kesiapan tim menghadapi situasi yang dalam kondisi nyata dapat menentukan hidup dan mati seseorang.

Sebanyak 17 tim dari 16 perusahaan sektor pertambangan dan energi dijadwalkan ambil bagian. PT Freeport Indonesia kembali menjadi tuan rumah, meneruskan dukungannya terhadap pengembangan kompetensi pemadam kebakaran dan penyelamatan yang telah berlangsung sejak 1996.

Keterlibatan perusahaan lintas sektor ini penting. Namun, ukuran keberhasilan kesiapsiagaan tidak cukup dilihat dari banyaknya peserta, meriahnya kompetisi, atau siapa yang membawa pulang gelar juara. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: sejauh mana keterampilan yang diuji di arena mampu diterapkan ketika keadaan darurat benar-benar terjadi di tempat kerja?

Delapan ujian, satu taruhan: keselamatan

IFRC 2026 menghadirkan delapan kategori kompetisi yang menguji kemampuan teknis, fisik, pengambilan keputusan, dan koordinasi tim. Kategori tersebut meliputi Road Accident Rescue, Structural Fire Fighting, Confined Space Rescue, Collapse Structure Search and Rescue, High Angle Rescue, Under Water Rescue & Recovery, Firefighter Competency Test, dan Firefighter Combat Challenge.

Setiap kategori merepresentasikan tantangan penyelamatan yang berbeda. Menangani korban kecelakaan kendaraan membutuhkan pendekatan berbeda dari mengevakuasi pekerja di ruang terbatas atau melakukan penyelamatan pada struktur yang runtuh. Kesalahan membaca situasi, penggunaan peralatan yang tidak tepat, atau komunikasi yang buruk dapat memperbesar bahaya, bukan hanya bagi korban, melainkan juga bagi personel penyelamat.

Karena itu, kecepatan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Ketepatan teknik, kepatuhan terhadap prosedur, penguasaan peralatan, komunikasi, dan kemampuan mengendalikan operasi sama pentingnya. Tim yang mampu menyelesaikan tugas dengan cepat tetapi mengabaikan keselamatan justru berpotensi menciptakan korban berikutnya.

Penilaian kompetisi dilakukan oleh asesor yang memiliki sertifikasi dan pengalaman relevan, dengan rujukan antara lain standar NFPA, referensi organisasi mine rescue, Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), serta regulasi nasional yang berlaku. Aspek medis, teknis, dan komando dinilai oleh sedikitnya tiga juri untuk setiap aspek terkait.

Kompetisi tidak boleh berhenti di arena

IFRC bukan hanya panggung untuk membuktikan siapa yang paling tangguh. Nilai strategisnya justru terletak pada kemampuan perusahaan mengubah hasil kompetisi menjadi perbaikan nyata dalam sistem kesiapsiagaan darurat.

Latihan internal tetap diperlukan, tetapi pengujian melalui skenario realistis dan tolok ukur eksternal dapat membantu mengidentifikasi kelemahan yang mungkin tidak terlihat dalam rutinitas perusahaan. Melalui kompetisi ini, setiap tim diharapkan dapat mengevaluasi kekuatan dan kekurangan, lalu menerjemahkan hasilnya menjadi program pelatihan dan peningkatan kompetensi.

Sejak 2024, IFRC ditetapkan sebagai kompetisi dua tahunan. Format ini memberi kesempatan lebih luas bagi perusahaan untuk mempersiapkan tim melalui kompetisi internal, lokal, maupun regional sebelum menghadapi ajang nasional.

Namun, tantangan sesungguhnya tidak selesai ketika perlombaan ditutup. Perusahaan harus memastikan keterampilan personel tetap terpelihara, prosedur tanggap darurat relevan dengan kondisi operasional, dan peralatan penyelamatan selalu siap digunakan. Evaluasi juga perlu menjadi bagian dari pembelajaran setelah latihan maupun insiden.

Keselamatan peserta sendiri menjadi prinsip yang tidak dapat ditawar. Penggunaan alat pelindung diri (APD), pengarahan keselamatan, pengawasan petugas keselamatan dan juri, serta kesiagaan tim medis merupakan bagian dari ketentuan pelaksanaan. Peralatan seperti self-contained breathing apparatus (SCBA), perangkat penyelamatan hidraulis, tali, harness, tandu, dan perlengkapan medis harus diperiksa kelayakan serta sertifikasinya sebelum digunakan. Pelanggaran terhadap ketentuan keselamatan dapat berujung pada penghentian kegiatan atau diskualifikasi.

Mengukur kesiapan, bukan sekadar prestasi

Bagi PERTAPINDO, IFRC merupakan bagian dari upaya meningkatkan profesionalisme personel tanggap darurat di sektor pertambangan dan energi Indonesia. Kolaborasi antara perusahaan, praktisi penyelamatan, asesor, dan pemangku kepentingan diharapkan memperkuat ekosistem kesiapsiagaan darurat sekaligus mendorong penyebaran pengetahuan dan praktik penyelamatan yang lebih baik.

Akan tetapi, budaya keselamatan tidak lahir hanya dari kompetisi, sertifikat, atau slogan zero fatality. Budaya itu dibangun melalui latihan yang konsisten, prosedur yang dijalankan, peralatan yang terawat, kepemimpinan yang tegas, dan keputusan operasional yang menempatkan keselamatan manusia sebagai prioritas.

IFRC 2026 di Timika menjadi momentum untuk menguji kemampuan sekaligus memperkuat pembelajaran lintas perusahaan. Ukuran keberhasilannya semestinya tidak berhenti pada klasemen akhir, melainkan terlihat dalam kesiapan tim saat kembali bekerja di lapangan.

Sebab, dalam keadaan darurat yang sesungguhnya, tidak ada kesempatan untuk mengulang perlombaan. Yang dipertaruhkan bukan medali, melainkan keselamatan manusia.

Pos terkait