Sukses dengan visinya menjadi perusahaan pengelola pembangkit listrik dan utilitas industri yang terpercaya di Asia Tenggara, tak bisa dilepaskan dari konsistensinya dalam menerapkan K3L. Komitmen manajemen, partisipasi aktif para karyawan dan penggunaan teknologi informasi menjadi kunci keberhasilan.
Jawa Timur, katigamagz.com – Sesuai tupoksinya, PT PLN Nusantara Power Services (PLN NPS), Anak Perusahaan dari PT PLN Nusantara Power, menyelenggarakan usaha di bidang pengadaan listrik, konstruksi ketenagalistrikan serta perdagangan besar dan eceran terkait ketenagalistrikan, antara lain, pembangkitan tenaga listrik seperti pengoperasian dan pemeliharaan fasilitas pembangkit, konstruksi bangunan elektrikal, perdagangan besar mesin, peralatan dan perlengkapan terkait ketenagalistrikan serta aktivitas penunjang ketenagalistrikan.
Lebih lanjut tentang lingkup usaha dan bagaimana komitmen penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Lingkungan (K3L), beberapa waktu lalu KATIGA berkesempatan berkunjung ke kantor PLN NPS di Jalan Raya Bandara Juanda No. 17 Sidoarjo, Jawa Timur dan diterima oleh Kepala Satuan Risiko dan LK3 Agus Sugiarto dan Manager LK3 Dimas Erlangga serta didampingi Sekertaris Perusahaan Dewanto Wicaksono.
Perusahaan yang sebelumnya bernama PJB Services ini bukan lagi sebagai entitas bisnis yang hanya dilihat sebagai ‘anak’. Sejak kelahirannya, PLN NPS telah menapaki perjalanan sukses sebagai perusahaan jasa yang fokus pada bidang operation, maintenance dan technical support ketenagalistrikan. Kini, PLN NPS pun bertransformasi menjadi perusahaan kelas dunia yang mengerjakan berbagai project di luar negeri.
“Saat ini kami juga merambah ke project-project lain, seperti pengelolaan unit pembangkit, pemeliharaan bahkan sampai overhaul pembangkit dan commissioning,” jelas Agus.
Tak hanya itu, PLN NPS juga dipercaya untuk membangun sistem solar cell di IKN dan memelihara beberapa pembangkit di Kawasan Indonesia Timur dari sebelumnya dikelola perusahaan swasta asing internasional seperti Wasila dan MAN. Contohnya ada di daerah Bima, Maumere, dan daerah lain. Secara keseluruhan pekerjaan banyak di luar Jawa.
PLN NPS didukung oleh sekitar 4.000 lebih karyawan yang tersebar dalam beberapa tipe pekerjaan, diantaranya AMC (Asset Management Contract) di mana skema bisnisnya itu Anggaran Operasi (AO) dan Anggaran Investasi (AI) nya diserahkan ke PLN NPS, artinya seluruh pengelolaan manajemen unitnya menjadi tanggung jawab PLN NPS mulai dari anggaran dan lain-lain. Sementara Asset Contractor Perfomance Base dan Technical Supporting mekanisme kontraknya terbatas, penganggaran masih bergantung pada pemilik, contohnya seperti pekerjaan-pekerjaan dari PLN.
“Kalau Asset Contractor Performance Base, PLN NPS tidak mengendalikan anggaran investasi tapi dibayar berdasarkan performances saja. Kalau supporting base kita berdasarkan SLA (Service Level Agreement) yang sudah ditetapkan dalam kontrak,” kata Agus menegaskan
Ada juga IPP (Independen Power Producer) yakni pekerjaan O&M (Operation & Maintenance) di perusahaan-perusahaan pembangkitan swasta murni, bukan pembangkitan dari PLN. Dimas Erlangga menambahkan saat ini PLN NPS juga memiliki bisnis workshop penunjang yang ada di Palembang dan Bitung untuk melayani pekerjaan dari internal maupun dari luar.

Agus menjelaskan pasar PLN NPS tidak hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri (overseas), seperti di Bangladesh, Kuwait, Saudi Arabia, dll. “Saat ini kami mengelola 38 unit, baik di dalam maupun luar negeri. Klien kami dari berbagai perusahaan, misalnya migas, pembangkit swasta, perusahaan pupuk, perusahaan kertas, dan tambang,” jelas pria asal Surabaya ini.
Atas prestasi dalam berbagai pekerjaan atau project, PLN NPS pun diganjar dengan banyak penghargaan. “Kami telah meraih beberapa penghargaan, diantaranya The Best O&M Contractor 2023, Industry Marketing Champions Award, Stellar Workplace Award 2023, dll. Ditambah ada beberapa penghargaan proper,” terang Dimas.
Penerapan K3L
Dilihat dari proses operasi ada beberapa sumber bahaya yang harus dikendalikan diantaranya penerimaan material seperti batubara, seperti paparan debu, bahaya kebakaran, bahaya listrik tengangan, bekerja di ketinggian, bahaya kimia. Jadi dapat dikatakan kompleks. Yang dominan di sini adalah bahaya kebakaran dan peledakan serta bahaya tegangan listrik.
Untuk itu Dimas menegaskan kebijakan dari Direksi sudah jelas yakni komitmen keselamatan dalam bekerja adalah nomor satu. Namun selain selamat, unit juga memiliki standar SLA dari klien. Karena di bidang jasa, perusahaan selalu menjaga agar SLA dan Equivalent Availability Factor (EAF) dari pemberi projects tercapai dengan baik.
“Bagaimana agar SLA dan EAF itu tetap tercapai tetapi faktor keselamatan itu tetap dinomorsatukan. Jadi zero accident nomor satu di perusahaan kami dan ini menjadi komitmen dan konsen kami di perusahaan mulai dari Direksi sampai ke level bawah. Ikhtiar kami adalah menjaga zero accident sepanjang masa,” tutur pria yang mengawali karir sebagai operator di Jepara ini.
Terkait lingkungan, perusahaan selalu patuh terhadap regulasi dan selalu menjaganya agar lingkungan tetap bersih terpelihara. ”Selain mengikuti update peraturan perundangan yang ada di pemerintah, kami juga terus melakukan sertifikasi proper, ada yang mendapatkan proper biru dan hijau,” terang Agus.
Dalam memastikan seluruh operasi PLN NPS berjalan aman bebagai langkah pun dilakukan. Dimulai dari komitmen manajemen misalnya, seluruh direksi membuat komitmen bersama dengan menandatangani prasasti penerapan K3L. Ditambah lagi dengan mengeluarkan kebijakan terkait penerapan K3L di mana semua direktur menandatangani kebijakan K3L tersebut. Prasasti itu kemudian dipasang di seluruh unit operasi dan kantor PLN NPS agar seluruh stakeholder mengetahui.
Tentang anggaran, untuk menunjang implementasi K3 sudah dianggarkan di pusat dan di setiap site juga melakukan perencanaan anggaran. Menyadari betapa penting K3, maka setiap tahun manajemen melakukan evaluasi pelaksanaan K3 dan menyusun anggaran K3 selama satu tahun ke depan. Dan anggaran ini tidak boleh digunakan untuk kepentingan lain selain untuk K3L.
Menurut Agus dalam perencanaan anggaran sudah mencakup masalah sertifikasi, pelatihan-pelatihan bersertifikat maupun non sertifikasi, kelengkapan alat pelindung diri (APD), sertifikasi manajemen K3 (SMK3 dan ISO) termasuk menentukan struktur organisasi K3 yang terbentuk dengan rapi dan jelas.

Selain itu, PLN NPS juga melakukan rapat rutin P2K3 (Panitia Pembina K3) yang di korporat diikuti oleh seluruh manajer unit, supervisor lingkungan dan K3, dan dipimpin oleh Direktur Utama dan/atau Direktur OM. Sementara di unit-unit juga melakukan hal yang sama dan dipimpin oleh manajer unit. Dalam rapat ini lebih banyak mengevaluasi dan monitoring terhadap pelaksanaan K3 dalam periode satu bulan. Rapat P2K3 juga dimaksudkan sebagai upaya mendorong kerjasama manajemen dan pekerja untuk menumbuhkan kepedulian, mengetahui dan penyelesaian masalah-masalah terkait pelaksanaan K3.
“Jadi komitmen K3 dari perusahaan bisa dibilang tinggi. Bahkan di kami ada program yang dinamakan top management walk down, dimana Direksi turun ke lapangan untuk melihat kondisi K3 di lapangan dan memastikan K3 berjalan,” ungkap Agus.
Terapkan Aplikasi ‘IZAT’ dan Paspor K3
Terkait fungsi koordinasi dan pengawasan, mengingat wilayah operasi tersebar di banyak area maka PLN NPS menggunakan sistem IT, seperti zoom meeting yang dilakukan secara berkala. Tak kalah pentingnya adalah menerapkan aplikasi ”IZAT” yakni sebuah aplikasi yang digunakan untuk patroli K3 termasuk pengecekan peralatan dan bisa dipantau dari pusat dengan menggunakan telepon seluler. Jadi dapat dipantau dari jauh, semua tercatat dan terekam. Di dalam aplikasi tersebut semua karyawan harus terlihat aktif dalam patroli K3 untuk menemukan unsafe condition dan unsafe act.
Dalam rangka pengendalian para kontraktor atau vendor, PLN NPS mengaplikasikan Contractor Safety Management System (CSMS) karena klien biasanya mensyaratkan program tersebut. CSMS di perusahaan ada dua, yakni pengadaan barang dan jasa. Di bidang jasa, misalnya jasa terkait SDM, keuangan, K3 dan jasa lingkungan. Verifikasi juga dilakukan dalam melakukan CSMS yakni terkait penentuan kategori pekerjaan risiko tinggi, sedang dan rendah. Dalam melakukan verifikasi, vendor harus menjawab 36 pertanyaan. PLN NPS kemudian melakukan verifikasi data vendor, verifikasi lapangan dan juga verifikasi faktual. Vendor yang tidak baik bisa dikeluarkan dari daftar.
”Bahkan atas penerapan aplikasi IZAT dan CSMS ini, Pertamina memberikan penghargaan kepada PLN NPS sebagai vendor terbaik,” ujar Dimas.

Tentang reward, PLN NPS lebih menekankan pemahaman bahwa K3 itu bersifat mandatori jadi harus dijalankan. Tetapi jika tidak dijalankan ada punishment yang harus ditanggung. Punishmentnya kebanyakan dalam bentuk surat peringatan (SP), contoh pelanggaran merokok di sembarang tempat atau tidak menggunakan APD.
“Kami juga melakukan lomba K3 setiap tahunnya untuk meningkatkan kecakapan K3 di perusahaan. Biasanya dilakukan bersamaan dengan acara bulan K3,” terang Dimas.
Dalam upaya meningkatkan pemahaman dan kecakapan karyawan terhadap K3 perusahaan memiliki learning system, semacam program pembelajaran K3 yang disebut ‘Paspor K3’. Learning system tersebut dalam bentuk aplikasi di web dengan metode pembelajarannya berupa materi sebanyak 75 slide yang harus dipelajari, setelah itu ada pertanyaan-pertanyaan yang wajib dijawab di mana sumber pertanyaannya dari Diklat. Poin minimal yang harus dipenuhi sebanyak 70, jika tidak terpenuhi tidak lulus. Kegiatan ini dilakukan setahun dua kali dan seluruh karyawan dari level atas sampai bawah wajib melaksanakan Paspor K3.
”Aplikasi Paspor K3 masih menjadi andalan kami untuk meningkatkan awareness K3 di perusahaan karena sifatnya yang bisa menyentuh dan bisa diakses setiap karyawan,” ujar Agus.
Ketika disinggung tentang upaya meningkatkan safety behavior, Agus dan Dimas menyatakan yang dilakukan adalah terus mengingatkan dalam bentuk program-program awareness, diharapkan menjadi kebiasaan dan budaya. Peningkatan awareness tadi dilakukan melalui pemasangan safety sign dan safety banner serta alat peraga lainnya, ditambah kegiatan webinar dari induk untuk menyosialisasikan safety. Selain itu, terus melakukan sertifikasi K3 kelistrikan dan K3 umum. Menurut Agus sudah banyak yang mengikuti pelatihan dan mendapatkan sertifikat.
Di sisi lain, tambahnya, safety patrol juga terus dilakukan dan ditingkatkan. Bahkan ia menargetkan di tahun ini karyawan yang melakukan safety patrol mencapai 50 persen dari seluruh karyawan dengan orang yang berbeda. Sertifikasi sistem manajemen K3 juga terus dilakukan dengan cara mensertifikasi K3 unit-unit operasi dengan SMK3 dan ada beberapa unit yang sudah memiliki ISO 45001.
Merespon jika terjadi kecelakaan kerja, pihak PLN NPS menyediakan tim fire rescue dan tim tanggap darurat–kombinasi antara medis dan teknisnya. Kedua tim tersebut terus dilombakan setiap tahunnya sebagai bentuk awareness terhadap K3 bahkan kadang diadakan secara dadakan dalam hal simulasi.
Di ujung perbincangan Dimas menuturkan kebanggaannya karena PLN NPS terpilih mengikuti Paritrana Award yang diselenggarakan oleh BPJS Ketenagakerjaan. Aspek yang dinilai adalah ketaatan terobosan perusahaan terhadap BPJS Ketenagakerjaan. “Terobosan yang kami lakukan adalah setiap vendor yang berhubungan dengan jasa, karyawannya harus dilindungi BPJS Ketenagakerjaan,” ungkap Dimas menutup perbincangan.



