Sara K. Loebis: Bangun Tidur, Ingat Safety !

Sara K. Loebis. Head of Corporate Governance & Sustainability PT United Tractors Tbk.
Sara K. Loebis. Head of Corporate Governance & Sustainability PT United Tractors Tbk.

Safety harus hadir di kepala kita, setiap hari. Ibaratnya, dari mata melek hingga merem lagi, jangan pernah tinggalkan safety. Jika ingin menjadi budaya, safety harus tertanam dalam ‘top of mind’ kita.

Jakarta, katigtamagz.com – Si pemberi pesan itu adalah Sara K. Loebis. Sosok wanita pekerja yang selalu serius dan bertanggung jawab di setiap pekerjaan yang diamanahkan padanya. Sara, panggilan akrabnya, termasuk wanita karir, sukses didunia alat berat yang identik dengan pria. Berkat ketekunan, dedikasi, loyalitas yang dimilikinya berbagai tahapan karir pun ia lalui dengan baik.

Lahir di Bogor dan besar di Jakarta, Sara yang berdarah Batak-Jawa ini, meniti karirnya di PT United Tractors Tbk sejak tahun 1996. Ia bergabung di Departemen Management Improvement & Development – bagian dari Divisi Management Information System. Sejak itulah, Sara terus meraih tanggung jawab baru, diantaranya ditunjuk sebagai Manajer Investor Relations (2004 – 2007), lalu dipercaya sebagai Sekretaris Perusahaan. Dan kini, Sara didapuk menjadi Head of Corporate Governance & Sustainability PT United Tractors Tbk.

Penyuka traveling dan baca buku ini, selalu menyukai tantangan. Jadi apapun tugas yang diberikan padanya tak pernah ditampik atau dipertanyakan. Dan, berbincang dengan wanita yang satu ini, tak membosankan. Dia yang enerjik dan serba cepat dalam bertindak, dijumpai KATIGA di kantornya, beberapa waktu lalu. Didampingi HSE Section Head Andri Prasetyo dan Tim Corporate Communications di ruang VIP Kantor Pusat United Tractors, obrolan tentang pengelolaan K3L di United Tractors pun berlangsung hangat.

Selama sebelas tahun mengurusi K3L di perusahaannya, Sara tak pernah malu untuk belajar banyak hal. “Saya bukan yang paling tahu di sini, tim saya yang lebih tahu dan lebih detail. Tugas saya adalah memfasilitasi supaya mereka benar-benar bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Akuntabilitasnya ada di saya, semua tanggungjawabnya ada di saya, tapi saya harus memastikan tim saya bisa bekerja,” tegas wanita penyuka kopi ini.

Sara menjelaskan secara ringkas tentang PT United Tractors Tbk. Dimana perusahaan yang berdiri di tahun 1972 inimerupakan anak usaha dari PT Astra International Tbk, dengan peran penting sebagai distributor tunggal alat berat produk Komatsu, UD Trucks, Scania, Bomag dan Tadano. Tanggung jawab distibutor eksklusif itu membangun network di seluruh Indonesia. United Tractors (UT) yang bertanggung jawab untuk penjualan alat berat tersebut kemudian menyediakan layanan purna jual dengan membangun kantor cabang, kantor jobsite, gudang/warehouse, workshop di seluruh Indonesia.

“Kalau jobsite itu jumlahnya bisa lebih banyak dari cabang. Jadi Komatsu sebagai produsen alat berat fokus pada pengembangan alat berat dan teknologinya. Tapi begitu urusannya jualan, berhadapan dengan customer, memberi layanan purna jual – karena alat berat itu memiliki lifetime yang optimal – yang bertanggung jawab adalah UT. Kami yang harus menyediakan mekanik dan sebagainya,” lanjutnya.

Menurut Sara, Indonesia menjadi salah satu market terbesar alat berat. Karena itulah, posisi Indonesia dalam hal ini UT sangatlah strategis bagi produk Komatsu.

Saat UT berdiri di tahun 1972, sektor yang paling banyak disasar adalah konstruksi, pembukaan lahan kelapa sawit, kehutanan, setelah itu baru tambang. Namun sekarang ini ada pergeseran, dimana untuk pembukaan kebun tidak mudah termasuk sektor kehutanan tidak seagresif dulu lagi dimana hutan dikelola menjadi hutan produksi. Dijelaskan Sara bahwa pertambangan membutuhkan alat berat yang tahan banting. Apalagi penggunaannya bisa 24 jam. Jadi Sara optimis produk dari Komatsu akan terus bertahan.

Memiliki 2.600 karyawan serta menggunakan peralatan kerja yang kompleks, membuat risiko kecelakaan saat bekerja terbuka lebar. Namun UT sudah paham akan hal ini, sehingga digaungkan tentang pentingnya K3 dan juga diberlakukannya aturan K3 untuk dipahami dan patuhi. Termasuk soal pelanggaran peraturan lingkungan, UT tidak tawar menawar dalam soal ini. Karena jika ini terjadi akan berdampak buruk bagi perusahaan, artinya jangan sampai pernah ada complain dari pemilik tambang perihal adanya pencemaran.

“Ketika kami bekerja di tambang milik customer, apapun tindakan kami yang bisa membuat suatu kondisi tidak aman itu, kami bisa kena penalti dari pemilik tambang. Oleh karena itu, salah satu wujud penting supaya usaha kami tetap bisa berlanjut adalah dengan menjaga reputasi,” tambah Sara.

Secara internal, penerapan K3 bersumber dari policy, evaluasi dan perbaikan. Misalnya di UT, cabang dan site dipimpin oleh kepala cabang dan jobsite digawangi site manager. Jadi merekalah yang bertanggung jawab penuh atas apa yang terjadi di wilayah yang menjadi tanggung jawabnya. Setiap tahun diadakan raker, bersama direksi untuk me-review capaian mereka terkait LK3. Apabila ada yang masih belum mencapai target maka dibahas langkah perbaikannya, lalu membuat komitmen lagi untuk tahun berikutnya.

“Kami juga punya perpanjangan tangan di cabang dan site yaitu ESR Officer yang bertugas membantu melakukan implementasi semua SOP K3 yang sudah kami tetapkan, pelaporan, evaluasi dan pemantauannya. Kalau penegakan itu ada di Branch Manager dan Site Manager. Tugas kami adalah turun ke lapangan untuk memastikan apakah sudah benar-benar applicable, implementable, atau menemukan ide-ide baru yang lebih progresif di lapangan,” papar Sara.

Sara menekankan safety harus menjadi ‘top of mind’ bagi semua personel UT. Untuk itu pihak UT dari awal sudah menyaring para pekerja agar memahami dan mengerti soal safety. Apalagi mereka juga melalui pelatihan dimana di dalamnya diajarkan soal pentingnya K3. Kampanye mengenai safety secara rutin dilakukan, dan ditam­bah dengan implementasi simulasi keadaan darurat seperti kebakaran, gempa, dan banjir di cabang dan site sebanyak dua kali dalam setahun. Tapi yang menurutnya krusial adalah simulasi kebakaran supaya yang bukan orang lapangan juga tahu langkah apa yang harus dilakukan ketika terjadi kebakaran.

Selain itu, UT juga membangun ‘safety patrol competition’ yakni lomba identifikasi bahaya, di mana syarat pesertanya bukan unit ESR atau orang lapangan. Lalu mereka ini, dikatakan Sara melakukan patrol di kantor dan mengidentifikasi hal-hal yang tidak aman dan dimintai pula solusinya.

“Saya selalu bilang dalam pertemuan-pertemuan, betul adanya bahwa departemen EHS ada di tempat saya, tapi cita-cita saya siapapun orang di UT safety itu muncul di kepalanya dari dia bangun sampai dia tidur. Artinya saya mengajak kesadaran yang sama dari lintas divisi,” jelas Sara.

Selanjutnya dikatakan, bahwa penyebab kecelakaan kerja itu banyak faktornya bisa faktor orangnya juga bisa pula lingkup kerjanya. Dan biasanya, UT sejak awal sudah menerapkan tentang pentingnya K3 utamanya kepada karyawan baru. Jadi dari mulai masa orientasi para karyawan baru sudah diberi pemahaman tentang hal ini. Namun tak dipungkiri, saat sudah menjadi karyawan ada yang kendur dalam hal safety tadi. Maka dari hari ke hari harus di-upgrade pemahaman tersebut. “Karena kalau tidak, dari situlah muncul faktor pribadi ‘tidak tahu atau tidak peduli’. Kalau ‘tidak tahu’ masih bisa kita obati, tapi kalau ‘tidak peduli’ ini obatnya susah, kecuali mereka memahami ada faktor penalti, manusia kadang baru sadar ketika kena imbas tidak enaknya,” lanjutnya.

Berdasarkan pengalamannya, Sara menjelaskan bahwa mekanik terkadang toolbox-nya tidak diperiksa, maka sebagai gantinya tim service yang membawahi mekanik itu harus memiliki orang khusus yang menangani tentang toolbox untuk menjamin alat yang dipakai bekerja benar-benar aman. “Pengalaman kami begini, kadang mereka sudah buru-buru ke tempat customer, lalu ternyata ada yang kurang maka untuk balik ke kantor lagi akan membuang waktu. Lalu mereka mencari alat yang ada di customer. Di sini apesnya, karena dengan alat yang tidak lengkap dan tidak standar, dapat terjadi kecelakaan kerja. Karena alat yang ada di customer belum tentu sesuai,” ucapnya.

Golden Rules dan Kepedulian       

Pada akhirnya pembicaraan mengarah pada Golden Rules. Dalam hal ini dikatakan Sara, pihaknya sudah membicarakan hal tersebut dengan serikat pekerja dan masuk dalam perjanjian kerja sama. Apabila melanggar maka akan ada peringatan SP 1 dan seterusnya. Jadi Golden Rules di UT mendapat dukungan penuh dari serikat pekerja, karena jika terjadi kecelakaan kerja maka akan menyusahkan semua termasuk si karyawan itu sendiri.

Bagaimanapun, Sumber Daya Manusia itu sangat penting. Menurut Sara, ujung dari penerapan LK3 adalah menjunjung tinggi manusia, yakni manusia di dalam perusahaan dan manusia di lingkungan sekitar. Untuk membudayakan safety memang butuh cara dan salah satu cara yang dilakukan UT adalah ‘menyuntikkan’ kepedulian safety kepada karyawan baru. Dimana mereka ini diberi pemahaman menyeluruh tentang K3. Diharapkan nantinya, mereka juga saling mengingatkan dengan rekan-rekan yang lain untuk berhati-hati dalam bekerja.

“Saya selalu bilang ‘sebagai senior jangan sampai memberikan contoh yang tidak benar. Cara lain yang paling bagus untuk menjadikan budaya adalah orangnya dijadikan sebagai instruktur atau guru. Saya percaya bahwa salah satu cara agar orang mau belajar adalah dengan mengajar. Sehingga pemahaman yang didapat akan menjadi lebih kuat,” tegas Sara.

Masalah safety memang banyak diamati pihak luar dalam hal ini negara lain. Dimana investor yang masuk, akan meminta data tentang safety. Bilamana soal keselamatan kerja ini ‘rapornya merah’, maka jangan harap ada investor masuk dan sangat sulit untuk bisa menjalin kerjasama dengan pihak luar.

Ketetapan PBB tentang Sustainable Development Goals (SDG), yakni agenda pembangunan skala global yang berkelanjutan demi masyarakat sejahtera, dimana ada 17 poin penting yang disuarakan kepada dunia. Dalam konteks UT, Sara menggarisbawahi ada beberapa aspek yang mereka genjot kinerjanya diantaranya aspek kesehatan, hak-hak pekerja dan tata kelola. “Acuan global adalah SDGs tadi, kalau di Indonesia yang disoroti soal hak-hak perempuan, pendidikan, dunia maritim (kualitas ekosistem laut). Jadi perusahaan bisa mencari dari 17 sasaran keberlanjutan PBB, mana yang paling sesuai bagi perusahaan,” tekannya.

Diakui tidak semua perusahaan bisa menerapkan standar safety tinggi. Karena semua menyangkut kesanggupan yang berujung dana, maka dari itu ada industri tertentu yang perlu dibantu pemerintah bahkan harus disubsidi demi mencapai standar safety tinggi. Belum lagi dengan persoalan emisi karbon, di mana persoalan pencemaran lingkungan menjadi sorotan utama. Diakui Sara, produk alat berat Komatsu memang masih berbahan bakar diesel yang berarti menggunakan solar. Namun tidak semuanya alat berat berbahan bakar solar, karena sudah ada yang berbahan bakar kombinasi seperti penggunaan baterai. “Saat ini yang dikembangkan Komatsu adalah alat-alat yang menggunakan biofuel. Jadi ketika pemerintah sekarang policy-nya B30, semua alat berat Komatsu sudah bisa menggunakan B30. PAMA (anak usaha UT, red) semua alat beratnya menggunakan bahan bakar B30. Jika suatu saat pemerintah akan menaikkan ke B35, kami juga sudah siap,” tegas Sara.

Di ujung percakapan, Sara kembali menggarisbawahi tentang pentingnya K3. Bahkan setengah berkelakar ia menyebut,” Kalau bisa orang setiap bangun tidur itu ingetnya K3. Kalau K3 itu jangan cuma inget mukanya saya dan Pak Andri, semua harus punya kesadaran,” tutupnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *