Sering bertugas di daerah-daerah membuatnya semakin paham bahwa safety bukan hanya pelaksanaan sistem dan prosedur saja, tapi harus peka membaca lingkungan tradisi masyarakat dan psikososial para pekerja, ia pun melakukan strategi ‘culture and family approach’.
Jakarta, katigamagz.com – Sebuah kegiatan yang kelihatannya simpel tapi ternyata berdampak signifikan karena dirancang dengan dasar konsep sentuhan keluarga atau family approach dalam rangka membangun budaya keselamatan kerja. Sekelompok anak-anak karyawan perusahaan pengeboran di Peterhead dan Fraserburgh Skotlandia berusia di bawah 10 tahun berlomba melukis dengan tema keselamatan kerja dan hasil-hasil yang terbaik dipajang di platform dan ruang makan karyawan. Salah satu lukisan terbaiknya berjudul “Dad Brings Safety” yang menginspirasi para karyawan untuk mengutamakan keselamatan kerja sesuai harapan anak-anak dan keluarga mereka di rumah.
Kegiatan yang digagas oleh Avep Disasmita – Presdir PDSI tersebut mampu menguatkan budaya keselamatan kerja para karyawan yang pada awalnya lebih mementingkan agar pekerjaan cepat selesai dan kurang peduli terhadap risiko keselamatan dan kesehatan di lingkungan kerja.
Awal karirnya dimulai di Total E&P Indonesie, Balikpapan di awal Januari 1995 di bagian Well Study Engineering. Puluhan tahun berpengalaman operasional dan managerial di dunia eksplorasi migas perusahaan asing membawa pria yang fasih berbahasa Prancis tersebut ke karir barunya resmi di Pertamina sejak 1 Januari 2018. Penugasan pertamanya di Pertamina adalah menjadi Country Manager, memimpin 40 orang Pertamina di Aljazair dalam joint operation dengan Repsol selama 3,5 tahun. Selanjutnya ia dipercaya untuk memimpin PT Saka Energi Indonesia (PGN Saka) – anak perusahaan hulu minyak dan gas bumi, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) dan yang terkini dipercaya sebagai Direktur Utama PT PDSI.
Yang paling penting untuk mendorong agar sebuah sistem dapat berjalan dengan baik dan benar, menurut alumnus Jurusan Teknik Perminyakatan Terbaik ITB 1993 tersebut adalah komitmen kepemimpinan yang kuat dalam menerapkan HSSE (Health, Safety, Security & Environment) seperti yang dijalankan oleh IOC (International Oil Companies). Bilamana komitmennya kendur, bukan tidak mungkin anggaran HSSE mengalami pengurangan karena ada hal-hal lain yang tiba-tiba lebih diprioritaskan.
“Pengalaman saya di IOC, tidak ada pemotongan anggaran yang berkaitan dengan safety, reliability, dan integrity. Itu clear, dan itu saya sampaikan juga di sini. Alhamdulillah komitmen ini pun banyak mendapat dukungan, karena sepenuhnya selaras dengan message dari Ibu Nicke Widyawati (Dirut Pertamina) bahwa “Safety Beyond Profit”. Kalau terjadi apa-apa dengan safety, maka prestasi akan hilang,” jelas pria yang hampir 30 tahun berkecimpung di dunia oil & gas drilling operation serta production termasuk pengalaman di Total Energies, Northsea-Offshore yang terintegrasi dengan safety & security procedure di berbagai perusahaan migas.
Pentingnya HSSE dalam manajemen operasional lapangan migas sungguh tak dapat dipandang sebelah mata melainkan harus diperhatikan dan diutamakan dalam semua kegiatan. Pria asal Bandung yang berulang tahun bulan Mei ini melukiskan besarnya tantangan kondisi operasional lapangan migas yang berpotensi risiko alam tak terduga.
“Pernah saya sebagai orang Asia pertama yang menjadi OIM (Offshore Installation Manager) di Northsea, berlokasi sekitar 500 km dari Aberdeen membawahi sekitar 300 pekerja asal Scotland. Pengalamannya sangat menantang. Cuacanya di bawah nol derajat sedangkan ombaknya setinggi di atas 20 meter. Kalau anda sempat nonton film Deepwater Horizon, seperti itulah kira-kira tantangannya,” paparnya. Catatan, untuk menjadi seorang OIM harus memiliki kompetensi OBITO standar UK, melewati assessment ketat dan panjang.
Dinamika perubahan cuaca yang dapat terjadi setiap saat di kawasan lepas pantai berpengaruh langsung pada aspek keselamatan dan kesehatan kerja seluruh tim operasional lapangan. Selain itu, menurut pria yang pernah menjabat District Manager Total E&P Indonésie West Papua, tantangan dan risiko kerja selalu hadir seperti yang dirasakannya saat ditempatkan di Russia, Azerbaijan, Italia, dan Paris.
Salam Lima Jari
Di semua sektor usaha, terlebih di sektor drilling operation, maka safety culture adalah sebuah keniscayaan, karena tak hanya berkaitan langsung dengan keselamatan pekerja tetapi juga korporasi secara keseluruhan. Menurut Avep ketidakpatuhan pada peraturan keselamatan kerja dapat berakibat malapetaka sebagaimana dicontohkan oleh IOC di Inggris (UK) yang mengambil pelajaran berharga dari musibah Piper Alpha Disaster yang terjadi 6 Juli 1988. Roboh dan tenggelamnya platform migas di lepas pantai North Sea – Inggris menewaskan 167 pekerja migas. Investigasi atas musibah tersebut selanjutnya melahirkan Safety Case yang wajib diterapkan oleh semua operator migas Inggris, dan sejak itu pula IOC di seluruh dunia tergerak untuk menerapkan safety culture secara berkelanjutan.
“Saya banyak belajar dari pengalaman saya di IOC yang sangat peduli pada work safety, dimana setiap perusahaan operator eksplorasi migas wajib menerapkan Safety Case dalam mengantipasi major risk. Bahkan di UK ada lembaga yang namanya HSE-UK (Health Safety Executive – United Kingdom) yang sangat powerful. Bila ada platform yang unsafe (tidak aman) mereka bisa memerintahkan penghentian kegiatan operasionalnya, dan lembaga itu pula yang melakukan training, assessment dan sertifikasi untuk calon OIM,” papar pria yang tak hanya menerapkan safety culture di perusahaan tetapi juga di lingkungan keluarganya, karena sudah menjiwai ‘risk-minded’ yang artinya tiada kegiatan tanpa risiko.
Untuk memperkuat bidang safetynya, Avep juga menjadi follower aktif Step Change-UK, sebuah website yang banyak menginformasikan aturan-aturan keselamatan yang menjadi referensi migas internasional, lengkap sekali. Menurutnya orang-orang yang mengisi website itu cukup mumpuni dan isinya pun sangat menarik untuk dijadikan sebagai ‘lesson learned’.
Avep mengatakan bekerja dengan risiko minimum adalah harapan dan kebutuhan setiap orang yang harus didukung dengan langkah-langkah mitigasi risiko, contohnya adalah dengan ALARP. Akronim dari “as low as reasonable practicable” ini menjadi panduan sederhana top management untuk memberikan ‘lampu hijau’ pada setiap kegiatan operasional yang akan dilakukan.
“Pengalaman dan konsep itu saya bawa ke PDSI untuk meningkatkan safety culture yang saat ini berada di level Proaktif. Memang di dunia pengeboran ini tidak hanya melibatkan human factor tapi juga equipment, sistem dan prosedur, kompetensi, lingkungan kerja dan sekuriti,” papar pria yang sejak 1994 sudah mulai bekerja di oil and gas kepada KATIGA. Lebih lanjut, kelima apek keselamatan kerja tersebut dikomunikasikan secara kreatif dengan ‘Salam Lima Jari’ yang mudah diingat dan diamalkan.
Dipaksa, Terpaksa Lalu Terbiasa
Menanamkan budaya keselamatan kerja agar membuahkan kinerja yang optimal menurut Avep Disasmita, harus dimulai dengan komitmen pimpinan puncak kemudian dikomunikasikan dengan model komunikasi dua-arah (top down, bottom-up) dan diterapkan oleh semua jajaran secara berkesinambungan. Sebagai salah satu BUMN, maka PDSI mendapatkan penguatan (reinforcement) safety culture dengan core-value AKHLAK (Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif) yang menjadi pilar utama dalam menjalankan aktivitas sehari-hari bagi semua BUMN.
Banyak hal terkait implementasi sistem nilai-nilai utama (core-value) budaya perusahan (corporate culture) dan budaya keselamatan kerja (safety culture) dirasakan oleh insan pekerja sebagai pemaksaan untuk patuh aturan, walaupun aturan itu sederhana seperti menggunakan safety belt dan helm, tetapi justru berdampak menjadi kebiasaan yang baik dan bermanfaat bagi diri pribadi maupun perusahaan serta lingkungan yang lebih luas.
Sebuah pengalaman menarik dalam membangun safety culture adalah saat Avep mempekerjakan warga lokal pedalaman untuk proyek di Delta Mahakam dan di Papua. Kalau menggunakan aturan yang sama dan cara komunikasi yang sama dengan pekerja internal perusahaan tentu akan banyak kendala. Oleh karenanya ia menggunakan pendekatan budaya, cultural engagement. “Saya pun enjoy terlibat dengan berbagai kegiatan ritual seremonial setempat dan bersahabat dengan kepala sukunya. Kita sampaikan pesan-pesan keselamatan kerja dengan bahasa sederhana, menunjukkan mana yang benar dan tidak benar secara visual maupun praktikal,” papar Avep Disasmita yang berpengalaman tiga tahun bekerja di Papua dan sempat mengikuti ritual lempar batu, lempar piring dan bahkan potong kepala buaya sebagai bagian dari cultural engagement.
Lebih lanjut disampaikannya bahwa perbedaan kompetensi antara pekerja internal dan pekerja sewaan lokal pedalaman tak hanya menuntut cara komunikasi yang berbeda tetapi juga sikap respek pada budaya mereka. Termasuk bila meminta sampel darah untuk MCU (Medical Check-Up) dari suku di Papua, perusahaan harus membayar sesuai adat mereka sebelum direkrut bekerja di proyek. “Sikap respek terhadap budaya setempat memang sangat penting dalam rangka membangun work safety culture, tak hanya di Indonesia tetapi juga di mancanegara termasuk di Skotlandia dimana warga pekerja umumnya suka minum-minum di bar selepas kerja,” ujar Avep yang namanya dijadikan salah satu semboyan hidupnya AVEP akronim dari Aspiratif, Visioner, Energik dan Profesional.
Namun demikian, menurut pria yang punya hobi bernyanyi dan bermain gitar tersebut implementasi safety culture juga memerlukan semacam reward and punishment yang disesuaikan dengan kinerja perorangan dan tim. Kinerja yang sangat baik layak mendapatkan apresiasi atau penghargaan, yang tak selalu identik dengan uang namun bisa dalam berbagai bentuk penghargaan. Untuk pelanggaran atau ketidakdisiplinan perlu pendekatan edukasi dan motivasi, kecuali bila sangat serius atau fatal harus mendapatkan sanksi. Selain itu, jajaran pimpinan juga perlu melakukan safety visit ke lapangan guna memastikan bahwa safety culture berjalan baik dan benar, sekaligus mencocokkan antara laporan monitoring HSSE dari tiap departemen dengan kondisi nyata di lapangan.
Safety visit menjadi bagian tak terpisahkan dari proses monitoring, evaluasi dan improvement implementasi HSSE. Walaupun perkembangan teknologi informasi melalui penggunaan CCTV dan sistem komunikasi canggih, safety visit tetap dibutuhkan untuk kepastian situasi dan kondisi riil karena membangun budaya apapun, termasuk budaya keselamatan kerja, adalah sebuah proses yang cukup kompleks dan berkelanjutan, karena senantiasa terkait dengan perilaku (behavior).
Menutup pembicaraan dengan KATIGA, Avep Disasmita menyampaikan harapan agar regulasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Indonesia dapat secara ketat diterapkan oleh semua pelaku dan pemilik usaha agar meminimalkan kejadian kecelakaan dan kematian akibat kerja yang tentu akan berdampak positif tak hanya terkait ketenagakerjaan tetapi juga bagi negara dan bangsa. Setidaknya, berkurangnya kecelakaan kerja turut menurunkan beban anggaran BPJS Ketenagakerjaan. Akhirnya, Avep mengingatkan agar kemanapun pergi Anda jangan lupa bawa DUIT (Doa, Usaha, Iman dan Taqwa). Salam Lima Jari… (AW)




