Jakarta, katigamagz.com. Kesadaran terhadap pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di Indonesia terus meningkat. Namun, regulasi dan sistem perlindungan kerja dinilai belum sejalan dengan dinamika industri yang berubah cepat. Menjawab tantangan itu, Indonesian Network of Occupational Safety and Health Professionals (INOSHPRO) bersama Safework Exhibition menggelar Indonesian OSH Forum 2025 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, 24 September 2025.
Forum bertema “Penguatan Upaya Menurunkan Kecelakaan dan Penyakit Akibat Kerja, Peningkatan Produktivitas dan Keberlangsungan Usaha” ini menjadi ajang strategis mendorong reformasi terhadap UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja yang dianggap sudah usang.

Menteri Ketenagakerjaan Prof. Yassierli, Ph.D. menegaskan pentingnya membangun budaya keselamatan yang partisipatif. “Kita harus beralih dari pendekatan teknokratis menuju pemberdayaan pekerja. K3 bukan hanya tanggung jawab ahli, tapi juga hak pekerja untuk berani bicara dan berpartisipasi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti perlunya reformasi sistem sertifikasi K3 yang selama ini rentan penyimpangan. “Diam berarti mengkhianati semangat K3. Reformasi harus menyentuh birokrasi hingga lembaga pelatihan,” tegasnya.
Sementara Prof. Dr. Tan Malaka, Ketua Advisory Board INOSHPRO, mengkritik lemahnya transparansi data K3 nasional. Ia menilai, ketertutupan data kecelakaan dan penyakit akibat kerja menghambat kebijakan berbasis bukti. “K3 harus bertransformasi dari sekadar mencegah kecelakaan menjadi upaya menciptakan lingkungan kerja yang manusiawi dan produktif,” katanya.
Forum juga menyoroti maraknya kecelakaan di sektor berisiko tinggi seperti smelter dan konstruksi. Data menunjukkan ratusan korban jiwa dalam beberapa tahun terakhir. Diskusi panel membahas digitalisasi pelaporan K3, penguatan kompetensi SDM, dan revitalisasi Dewan K3 Provinsi agar pengawasan di daerah lebih efektif.
Selain menjadi ajang evaluasi, forum ini juga memberi apresiasi terhadap inovasi K3, seperti program promotif-preventif BPJS Ketenagakerjaan dan pelibatan serikat buruh dalam pelatihan.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan plakat dari Prof. Tan kepada Menteri Yassierli, disambut antusiasme ratusan peserta. Forum ini diharapkan menjadi langkah nyata menuju reformasi menyeluruh sistem K3 nasional yang lebih terbuka, inklusif, dan berkelanjutan.





